DIAJUKAN
UNTUK MEMENUHI TUGAS
MORFOLOGI
DOSEN
BPK.
MUSTAMIL, DRS.,M.Pd
DISUSUN OLEH
:
ETI ERNAWATI
IBNU MUBAROK
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
STKIP NU INDRAMAYU
JLN RAYA KAPLONGAN NO.28
KARANGAMPEL-INDRAMAYU 45283
TLPN. (0234) 485046 – 486777 FAX.
(0234) 486008
TAHUN 2017
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh,
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan
Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah tentang sifat, fungsi, dan manfaat sastra ini dengan baik
tanpa kurang suatu apapun. Tak lupa kami juga berterima kasih kepada Bapak Mustamil,Drs.,M.pd.
Selaku dosen pembimbing kami dalam mata kuliah morfologi yang sudah memberikan tugas ini.
Kami selaku penulis
berharap semoga kelak makalah ini dapat berguna dan juga bermanfaat serta
menambah wawasan tentang pengetahuan kita semua. Dalam pembuatan makalah ini
kami sangat menyadari masih sangat banyak terdapat kekurangan dan masih butuh
saran untuk perbaikannya. Oleh karena itu kami sangat berterima kasih jika ada
yang sudi memberi saran dan kritiknya demi perbaikan makalah ini.
Wassalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Kaplongan,
24 November 2017
PENYUSUN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Nomina atau kata
benda adalah kelas kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua
benda dan segala sesuatu yang dibendakan. Kata-kata
berkelas nomina, selain berbentuk akar (nomina), banyak pula yang terbentuk
melalui proses afiksasi. Pembentukan dengan afiksasi ini ada yang dibentuk langsung Dari akar , tetapi sebagian besar dibentuk dari akar melalui kelas verba dari akar itu. Yang
dibentuk langsung dari akar nomina turunan berkonfiks ke-an, seperti kepartaian
yang bermakna gramatikal ‘proses membaca’ dan bacaan yang bermakna gramatikal
‘hasil membaca’ atau ‘yang dibaca’.
1.2 Rumusan
Masalah
1.2.1
Apakah
itu nomina akar dan nomina turunan?
1.2.2
Apa
sajakah afiks pembentuk nomina turunan?
1.3 Tujuan
1.3.1
Dapat
memahami nomina akar dan nomina turunan.
1.3.2
Dapat
mengetahui afiks pembentuk nomina turunan.
BAB
II
PEMBAHASAN
AFIKSASI : PEMBENTUKAN NOMINA
Kata-kata berkelas nomina, selain berbentuk akar
(nomina), banyak pula yang terbentuk melalui
proses afiksasi. Pembentukan
dengan afiksasi ini ada yang dibentuk
langsung Dari akar , tetapi sebagian
besar dibentuk dari akar melalui kelas
verba dari akar itu. Yang dibentuk langsung dari akar nomina turunan berkonfiks
ke-an, seperti kepartaian yang bermakna gramatikal ‘proses membaca’ dan bacaan
yang bermakna gramatikal ‘hasil membaca’ atau ‘yang dibaca’.
Bahwa
nomina pembaca dibentuk dari dasar baca melaui verba membaca dapat kita lihat
dari makna gramatikalnya, yaitu ‘yang membaca’. Sedangkan kata kehutanan dibentuk
langsung dari akar hutan juga tampak dimakna gramatikalnya yaitu ‘tentang
hutan’ atau hal hutan.
Afiks-afiks
pembentuk nomina turunan sejauh ini adalah:
1. Prefiks
ke-.
2. Konfiks
ke-an.
3. Prefiks
pe-.
4. Konfiks
ke-an.
5. Konfiks
per-an.
6. Sufiks
–an.
7. Sufiks
–nya.
8. Prefiks
ter-.
9. Infiks
–el, - em, - dan – er.
10. Sufiks
dari bahasa asing.
2.1 Nomina Berprefiks
ke-
Nomina berprefiks ke-sejauh data yang ada hanyalah
ada tiga buah kata, yaitu ketua, kekasih, dan kehendak dengan makna gramatikal
‘yang dituai’,’yang dikasihi’, dan ‘yang dikehendaki’, contoh lain tidak ada.
2.2 Nomina Berkonfiks
ke-an
Ada dua macam pembentukan nomina denga konfiks
ke-an. pertama,yang dibentuk langsung dari bentuk dasar, baik dari akar tunggal
maupun akar majemuk, seperti pada kata ketuhanan dan keolaragaan. Simak bagan
berikut:
Hutan + ke-an => kehutanan
OLaraga + ke-an => keolaragaan
kedua, dibentuk dari akar, tetapi melalui verba /
(yang dibentuk dari akar tersebut) yang menjadi predikat dalam satu klausa,
seperti pada kata keberanian dan kesedihan pada contoh berikut:
Keberanian
(yang diturunkan dari verba berani, dari klausa ‘mereka sungguh berani).
Kesedihan (yang diturunkan dari verba sedih,
dari klausa ‘kami sangat sedih’).
2.2.1 Nomina Berkonfiks
ke-an
Yang
dibentuk langsung dari bentuk dasar memiliki makna gramatikal (a) ‘hal
(dasar)’ atau ‘tentang (dasar)’; dan (b) ‘tempat’ atau
‘wilayah’.
(a) Nomina
berkonfiks ke-an yang dibentuk langsung dari dasar memiliki makna gramatikal
‘hal (dasar)’ apanila bentuk dasarnya itu memiliki komponen makna (+ bendaan)
dan (+ objek bicara).
Misalnya:
- kehutanan,
artinya ‘hal hutan’.
- keolahragaan,
artinya ‘hal olahraga’.
- kebersamaan,
artinya ‘ hal bersama’.
- ketidakadilan,
artinya ‘hal tidak adil’.
- keterbacaan,
artinya ‘hal terbaca’.
-
Nomina berkonfiks ke-an
yang di benyuk langsung dari bentuk dasar memiliki makna gramatikal ‘tempat
(dasar)’ atau ‘wilayah (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna
(+ bendaan)’ ( wilayah) dab (+ jabatan). Cotoh:
-
Kelurahan, artinya ‘wilayah
lurah’.
-
Kecamatan, Artinya ‘wilayah camat’.
-
Kerajaan, artinya
‘wilayah raja’.
-
Kesultanan, artinya
‘wilayah sultan’.
2.2.2 Nomina Berkonfik
ke-an
Yang di bentuk dari dasar melalui verba (yang
dibentuk dari dasar itu dan menduduki fungsi predikat sebuah klausa) memiliki
makna gramatikal (a) ‘hal (dasar)’ dan (b) ‘hasil’.
(a) Nomina
berkonfiks ke-an yang di bentuk dari dasar melalui verba/predikat dari suatu
klausa memilki makna gramatikal ‘hal (dasar)’ apabila bentuk dasarnya dari
klausa ‘ memiliki komponen makna (+ keadaan). Contoh:
-
Keberanian, artinya
‘hal berani’ (yang dari verba berani, misalnya dari klausa ‘anak itu berani
sekali’).
-
Kebencian, artinya ‘hal
benci’ (yang di bentuk dari verba benci, misalnya dari klausa ‘dia memang benci
kepada saya’).
-
Kegembiraan, artinya
‘hal gembira’ (yang dibentuk dari verba gembira, misalnya dari klausa ‘ mereka
tampak gembira’).
(b)
Nomina berkonfiks ke-an yang dibentuk dari
dasar melalui verba/predikat dari suatu klausa memiliki makna gramatikal ‘hasil
me-kan’ apabila verba yang dilaluinya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan
(+ sasaran). Comtoh:
-
Ketetapan, artinya
‘hasil menetapkan’ (yang dibentu,
misalnya dari klausa .MPR akan menetapkan RUU itu’).
-
Keputusan, artinya
‘hasil memutuskan’ (yang dibentuk, misalnya dari klausa ‘ gubernur tak
dapat memutuskan perkara itu’).
-
Kesimpulan, artinya
‘hal menyimpulkan’ (yang dibentuk, misalnya dari klausa ‘kalian harus dapat
menyimpulkan manfaat cerita itu’).
2.3 Nomina Berprefiks
pe-
Ada dua macam proses pembentukan nomina dengan
prefiks pe-. pertama yang mengikuti
kaidah persengauan, dan kedua, yang tidak mengikuti persengauan. Yang mengikuti
kaidah persengauan mempunyai hubungan dengan verba berprefiks me- transitif dan
verba dasar. Sedangkan yang tidak mengikuti kaidah persengauan mempunyai
hubungan dengan verba berprefiks ber- yang mentyatakan tindakan.
2.3.1 Nomina Berpefiks
pe- yang Mengikuti Kaidah Persengauan
Prefiks pe-yang mengikuti kaidah persengauan dapat
berbentuk pe-, pem-, pen-, per-, peng-, peny-, dan penge-. Persengauannya sama
dengan persengauan pada prefiks me-.
Bentuk alomorf pe- digunakan apabila bentuk dasar
nya dimulai dengan fonem, r, l, w, y, n, ny, dan ng. Contoh:
-
Perawat (verba :
merawat).
-
Perakit (verba:
merakit).
-
Pelintas (verba : melintas).
-
Pewaris (verba :
mewarisi).
-
Peyakin (verba :
meyakini).
-
Pemarah (verba : marah,
memarahi).
-
Penanti (verba :
menanti).
-
Penyanyi (verba :
menyanyi).
-
Pengamen (verba :
mengamen).
Bentuk atau alomorf pem- digunakan apabila bentuk
dasarnya dimulai dengam fonem, b, p, f, dan v. Dengan catatan fonem, b, f, dan
v, tetap berwujud, sedangklan fonem p disenyawakan dengan bunyi nasal dari
prefikss itu. Simak contoh-contoh berikut:
-
Pembina (verba :
membina).
-
Pemotong (verba :
memotong).
-
Pemfitnah ( verba : memfitnah).
-
Pemveto (verba :
memveto).
Secara aktual bentuk pemfitnah dan pemveto tidak
ada, secara potensial bisa ada. Bentuk
atau alomorf men- digunakan apabila bentuk dasarnya dimualai dengan fonem d dan
t. Dengan catatan fonem d tetap di wujudkan sedangkan fonem t tidak diwujudkan
melainkan disenyawakan denga bunyi nasal yang ada pada prefiks tersebut. Simak
contoh-contoh berikut:
-
Pendengar (verba :
mendengar).
-
Pendidik (verba :
mendidik).
-
Penulis (verba : menusil).
-
Penodong (verba :
menodong).
Bentuk meny- digunakan apabila fonem awal bentuk
dasrnya adalah fonem s, c, dan j. Dengan catatan fonem s, disenyawakan dengan
bunyi nasal yang ada pada prefiks itu; sedangkan nasal nyuntuk fonem c dan j
dalam bahasa tulis digantikan dengan huruf n perhatikan contoh berikut:
-
Penyikat (verba : menyikat).
-
Penyakit (verba
:menyakiti).
-
Pencuri (lafal :
penycuri verba mencuri).
-
Pencopet (lafal :
penycopet verba mencopet).
-
Penjual (lafal :
penyjual verba menjual).
-
Penjahit (lafal
:penyjahit verba menjahit).
Bentuk alomorf peng- digunakan apabila bentuk
dasarnya mulai dengan fonem k, g, h, kh, a, i, u, e ,dan o. Dengan catatan fonem k tidak diwujudkan
melainkan disenyawakan dengan bunyi nasal ng yang ada pada prefiks itu; sedangkan
fonem lain tidak diwujudkan. Contoh:
-
Pengirim (verba :
mengirim).
-
Penggugat (verba :
menggugat).
-
Penghibur (verba :
menghibur).
-
Penghianat (verba : menghianati).
-
Pengambil (verba :
mengambil).
-
Pengiris (verba :
mengiris).
-
Pengurus (verba :
mengurus).
-
Pengekor (verba :
mengekor).
-
Pengobral ( verba :
mengobral).
Bentuk atauk atau alomorf peng- digunakan apabila
bentuk dasarnya berupa bentuk ekasuku. Contoh:
-
Pengetik (verba :
mengetik).
-
Pengecat (verba :
mengecat).
-
Pengetes (verba :
mengetes).
-
Pengebom (verba :
mengebom).
-
Pengesah (verba : mengesahkan).
Nomina berprefiks pe- yang mengikuti kaidah
persengauan di bentuk dari dasar melalui verba dari suatu klausa, sehingga
makna gramatikal yang dimiliki adalah:
1.
Yang (dasar).
2.
Yang me- (dasar)
3.
Yang me-kan (dasar)
4.
Yang me-i (dasar)
2.3.1.1 Nomina Berprefiks
pe-
Nomina
berprefiks pe- memiliki makna gramatikal yang (dasar) apabila dibentuk
memalalui verb a yang sama dengan dasar itu . Contoh:
-
Pendatang
(dari verba yang datang
dalam kalimat ‘’mereka dating dari luar kota’’)’
-
Pemabuk
(dari verba mabuk dalam
kalimat ‘’anak-ank itu seringmabuk di sana’’).
-
Pemalas
(dari verba malas dalam
kalimat ‘’anak itu memang malas’’).
-
Pemberani
(dari verba berani
dalam kalimat ‘’ beliau memang berani’’).
-
Penakut
(dari verba takut
daalam kalimat ‘’ mereka takut kepada hantu’’).
2.3.1.2
Nomina Berprefiks pe-
Nomina berprefiks pe- memiliki makna gramatikal
‘yang me- (dasar)’ apabila dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks me-
yang di bentuk dari dasar itu. Contoh:
-
Penulis (Dari dasar tulis
melalui verba menulis).
-
Penonton (dari dasar tonton
melalui verba menonton).
-
Pelatih (dari dasar latih
melalui verba melatih).
-
Pengawal (dari dasar kawal
melalui verba mengawal).
-
Pengajar (dari dasar ajar
melalui verba mengajar).
2.3.1.3
Nomina berprefiks pe-
Nomina berprefiks pe- memilki makna gramatikal ‘yang
me-kan (dasar)’ apabila dibentuk dari dasar melalui verba berrkonfiks me-kan
yang di bentuk dari dasar itu. Contoh:
-
Penjinak (dari dasar jinak
melalui verba menjinakan).
-
Pembersih (dari dasar bersih
melalui verba membersihkan).
-
Pewangi (dari dasar wangi
melalui verba mewangikan).
-
Penentu (dari dasar tentu
melalui verba menentukan).
-
Penerbang (dari dasar terbang
melalui verba menerbangkan).
2.3.1.4 Nomina
berprefiks pe-memiliki makan gramatikal ‘yang me-i (dasar )’ apabila dibentuk dari dasar melalui
verba me-i yang dibentuk dari dasar itu. Contok:
-
Pewaris
(dari dasar waris melalui verba mewarisi
).
(dari dasar kunjung melalui verba
mengunjungi).
-
Pelengap
(dari dasar lengkap melalaui lengkap
verba melengkapi).
-
Penurut
(dari dasr turut melalui verba
menuruti).
Catatan:
Sepeperti sudah dibacakan pada BAB
III, bahwa makna gramatikal seringkali tidak sama dengan makna pemakaian
bahasa. Dalam pemakaianannya nomina berprefiks pe- dapat menyatakan, antara
lain makna:
(1) Orang
yang melakukan tidakan atau perbuatan, seperti
penulisan, pembaca, pemukul , pendengar dan penoton.
(2) Profesi
dari seseorang, seperti pelukis, penyanyi, penari, pelawak dan penerbang.
(3) Alat
untuk melakukan sesuatu tindakan atau pekerjaan, seperti pemotong (rumput), penghancur (kertas), pembersi
(lantai), penjepit (dasi) dan pemecah (es).
(4) Orang
yang bersifat atau sering melakukan yang disebut bentuk dasar nya, seperti
pemabuk, pemalas, pemalu, pengecut, dan pemberani. Dalam berbagai buku
pelajaran kata-kata seperti pemabuk ini sering disebut kata sifat atau kata
ajektyifa, padahal seharusnya nomina.
2.3.2 Nomina Berprefiks
pe- Yang Tidak Mengikuti Kaidah Persengauan.
Nomina
berprefiks pe- yang tidak mengikuti kaidah persengauan berkaitan dengan verba
berprefiks ber- atau verba berkonfiks memper-kan yang di bentuk dari dasar itu.
Makna gramatikal yang dimiliki adalah ‘yang ber- (dasar)’. Contoh:
-
Peladang (dari dasar
ladang melalui verba berladang).
-
Pedagang (dari dasar dagang
melalui verb berdagang).
-
Peternak (dari dasar ternak
melalui verba beternak).
-
Petapa (dari dasar tapa
melalui verba bertapa).
-
Petaruh (dari dasar taruh
melalui verba mempertaruhkan).
Catatan:
1. Nomina
berprefiks pe- yang dibicarakan pada subbab 8.3.2 ini tidak produktif. Artinya,
tidak semua verba berprefiks ber- atau berklofiks merper-kan menurunkan nomina
berprefiks pe-.
2. Ada
sejumblah verba memper-kan (memper-i) yanhg memiliki nomina turunan berklofiks
pemer- dengan makna gramatikal ‘yang memper-kan’. Misalnya nomina:
-
Pemerhati (dari verba
memperhatikan).
-
Pemerlain (dari verba
memperlainkan).
-
Pemerlengkap (dari
verba memperlengkapi).
-
Pemersatu (dari verba
mempersatukan).
-
Pemertahan (dari verba
mempertahankan).
2.3.3 Nomina Berprefiks
pe- Melalui Proses Analogi
Ada
dua macam pembentukan nomina berprefiks pe- yang dibentuk melalui proses
analogi. Keduanya adalah:
1. Adanya
bentuk penyuruh (dengan makna gramatikal ‘yang menyuruh’) dan bentuk pesuruh
(dengan makna gramatkal ‘yang disuruh’), maka dibentuk pasangan:
-
Penatar ‘yang menatar’
dan petatar ‘yang ditatar’.
-
Penyuluh ‘yang
menyuluh’ dan pesuluh ‘yang disuluh’.
-
Pengubah ‘yang
mengubah’ dan perubah ‘yang merubah’.
2. Adanta
bentuk petinju dan pegulat dengan makna gramatikal ‘yang berolahraga tinju’ dan
‘yang berolahraga gulat’, maka dibentuk istilah-istilah seperti pegolh, peyudo,
petembak, petenis, pesepak bola, peterjun payung, dan pecatur. Semua istilah
olahraga ini tidak mengenal persengauan.
2.4 Nomina Berkonfiks pe-an
konfiks pe-an
dalam pembentukan nomina mempunyai enam buah bentuk ataun alomorf, yaitu pe-an,
pem-an, pen-an, peny-an, peng-an, dan penge-an. kaidah penggunaannya sejalan
dengan kaidah persengauan prefiks me- maupun prefiks pe-, yaitu sebagai
berikut:
bentuk
alomorf pe-an digunakan apabila bentuk dasarnya berawalan dengan fonem
r,l,w,y,m,n,ny dan ng. Simak contoh berikut:
-
Perawatan
-
Pelarian
-
Pewarisan
-
Peyakinan
-
Pemantapan
-
Penantian
-
Penyanyian
-
Pengangaan.
Bentuk atau alomorf pem-an di gunakan apabila bentuk
dasarnya berawalan denan fonem b,p,f, dan v. Dengan catatan fonem b tetap di
wujudkan, fonem p disenyawakan dengan bunyi sengaudai konfiks yang
bersangkutan, sedangkan kata yang berfonem f dan v hingga kini masih berupa
data potensial. Perhatikan contoh berikut:
-
Pembinaan
-
Pembakaran
-
Pemilihan
-
Pemotongan
-
Pemfitnahan
-
Pemvetoan
Bentuk bentuk alomorf pen-an digunakan apabila
bentuk dasarnya berawalan dengan fonem d dan t. Dengan catatan fonem d tatap
diwujudkan, sedangkan fonem t disenyawakan dengan bunyai sengau dari konfiks
yang bersangkutan. Simak contoh berikut:
-
Pendengaran
-
Penderitaan
-
Penerbitan
-
Penentuan
Bentuk atau alomorf peng-an digunakan apbila bentuk
dasrnya berawalan dengan fonem k, g, h, kh, a, i, u, e,dan o. Dengan catatan fonem k disenyawakan dengan
bunyi sengau dari konfiks itu, sedangkan yang lai –lain tetap diwujudkan. Simak
contoh berikut:
-
Pengiriman
-
Penghukuman
-
Pengkhianatan
-
Pengambilan
-
Pengintaian
-
Pengurusan
-
Pengedaran
Bentuk atau alomorf penge-an digunakan apabila
bentuk dasarnya berupa dasar ekasuka. Contoh:
-
Pengeboran
-
Pengecatan
-
Pengetikan
-
Pengesahan
-
Pengecoran
Proses pembentukan nomina berkonfik pe-an dilakukan
dari dasar melalui verba berprefiks me-, berklofiks me-kan atau berklofoks
me-i. Oleh karena itu, makna gramatikal yangb dimiliki adalah:
(1)
Proses / hal me-
(dasar)
(2)
Prosses / hal me-kan
(dasar)
(3)
Proses / hal me-i
(dasar)
2.4.1 Nomina Berkonfiks
pe-an
Nomina
berkofiks pe-an memiliki makna gramatikal ,hal/proses me- (dasar)’ apabila
bentuk dari dasar melalui verba berprefiks me- inflektif. Contoh:
-
Pembacaan, artinya ‘hal
membaca’.
-
Penulis, artinya ‘hal
menulis’.
-
Pendengaran, artinya
‘hal mendengar’.
-
Penutup, artinya ‘hal
menutup’.
-
Pembayaran, artinya
‘hal membayar’.
2.4.2.
Nomina berkonfiks pe-an
Memiliki makna gramatikal ‘hal/proses me-kan (dasar)’
apabila dibentuk dari dasar melalui verba berklofiks me-kan yang dibentuk dari
dasar itu. Contoh:
-
Pembenaran,
artinya ‘hal membenarkan’.
-
Pengecualian,
artinya ‘hal mengecualikan’
2.4.3.
Nomina berkonfiks pe-an
Memiliki makna gramatikal ‘hal/proses me-i (dasar)’
apabila dibentuk dari dasar melalui verba berklofiks me-i yang dibentuk dari
dasar itu. Contoh:
-
Pewarisan,
artinya ‘hal mewarisi’.
-
Pembenahan,
artinya ‘hal membenahi’.
-
Pelucutan,
artinya ‘hal melucuti’.
2.5.
Nomina Berkonfiks Per-an
Ada dua macam proses pembentukan nomina dengan berkonfiks
per-an. Pertama, yang diturunkan dari dasar melalui verba berprefiks per-an dan
kedua yang dibentuk langsung dari dasar nomina.
1.
Nomina
berkonfiks per-an yang dibentuk dari dasar melalui verba ber- bentuknya
mengikuti perubahan bentuk prefiks ber-, sehingga menjadi bentuk per-an, pe-an,
dan pel-an. Bentuk atau alomorf per-an digunakan apabila diturunkan dari dasar
melalui verba bentuk ber- seperti:
-
Perdagangan
(dari verba berdagang).
-
Perselingkuhan
( dari verba berselingkuh).
-
Perladangan
( dari verba berdagang).
Bentuk atau alomorf pe-an digunakan apabila diturunkan
dari dasar melalui verba bentuk be. Misalnya:
-
Pekerjaan
(dari verba bekerja).
-
Peternakan
(dari verba beternak).
-
Pecerminan
(dari verba becermin).
Bentuk atau alomorf pel-an hanya digunakan satu-satunya
pada dasar ajar melalui verba belajar, sehingga menjadi pembelajaran. Hanya
makna gramatikalnya bukan ‘hal/proses belajar’ melainkan ‘bahan belajar’.
2.
Nomina
berkonfiks per-an yang dibentuk dari dasar (baik akar maupun bukan) nomina,
seperti:
-
Perkeretaan.
-
Perburuhan.
-
Perkantoran.
Makna gramatikal nomina berkonfiks per-an, baik yang
dibentuk dari dasar melalui verba ber-, maupun yang langsung dari dasar adalah:
‘hal atau tentang (dasar)’. Namun dalam pemakaian memiliki makna antara lain:
1.
‘hal
ber- (dasar), seperti:
-
Pergerakan,
bermakna ‘hal bergerak’.
-
Perselingkuhan,
bermakna ‘hal berselingkuh’.
-
Pertemuan,
bermakna ‘hal bertemu’.
2. ‘hal, tentang atau masalah (dasar), seperti:
-
Perekonomian,
artinya ‘hal ekonomi’.
-
Perkreditan,
artinya ‘hal kredit’.
-
Perhotelan,
artinya ‘hal hotel’.
3. ‘derah, wilayah atau tempat’, seperti:
-
Pegunungan,
berarti ‘daerah gunung’.
-
Pedalaman,
berarti ‘daerah dalam’.
-
Pemukinan,
berarti ‘daerah mukim’.
2.6.
Nomina bersufiks –an
Ada tiga macam proses pembentukan nomina bersufiks –an.
Pertama, yang dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks me- inflektif.
Kedua, yang dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks ber-; dak ketiga dasar
langsung diberi sufiks –an itu. Ketiga cara ini mempunyai makna gramatikal
masing-masing.
2.6.1
nomina bersufiks –an
Dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks me-
inflektif memiliki makna grematikal:
1.
Hasil
me- (dasar).
2.
Yang
di- (dasar).
3.
Alat
me- (dasar).
2.6.1.1. Nomina
bersofiks –an
Dibentuk dari dasar
melalui verba berprefiks me- inflektif memiliki makna grematikal ‘hasil me-
(dasar)’ apabila hubungan antara verba me- inflektif yang dibentuk dari dasar
itu dengan objeknya menyatakan hasil seperti:
- tulisan, dalam arti ‘hasil menulis’ (diturunkan melalui
verba menulis, dimana hubungan verba dengan objeknya, misalnya, surat,
mempunyai hubungan hasil)’.
2.6.1.2.
Nomina bersufiks –an
Dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks me-
inflektif memiliki makna gramatikal
‘yang di (dasar)’ apabila hubungan antara verba me- inflektif yang
dibentuk dari dasar itu dengan objeknya menyatakan ‘sasaran’, seperti nomina
makanan, bacaan dan tahanan dalam kalimat-kaliamat berikut:
- makanaan dilemari sudah tidak tersisa lagi.
- bahan bacaan tersedia lengkap.
2.6.1.3.
Nomina bersufiks –an
Dibentuk dari dasar melalui verba berpreiks me- inflektif
memiliki makna gramatikal ‘alat me-‘ apabila verba berprefiks me- yang
dilaluinya memiliki komponen makna (+ alat), seperti nomina saringan (dari
verba menyaring).
- mobil ini mogok karena saringan bensinnya tersumbat.
2.6.2
nomina bersufiks –an
Dibentik dari dasar melalui verba berprefiks ber-
memiliki makna gramatikal ‘tempat ber(dasar)’. Misalnya, nomina kubangan,
tepian, dan pangkalan pada kalimat-kalimat berikut:
-
Lubang-lubang
di jalan itu ada yang sebesar kubangan kerbau (kubangan berarti tempat
‘berkubang’).
-
Mereka
berdagang di tepian sungai (tepian berarti ‘tempat yang bertepi’)
-
Kutunggu
kamu di pangkalan ojeg (pangkalan berrti ‘tempat berpangkal’).
2.6.3
nomina bersufik –an
Dibentuk dari dasar langsung memiliki makna gramatikal.
1.
Tiap-tiap.
2.
Banyak
(dasar).
3.
Bersifat
(dasar).
2.6.3.1. nomina
bersufik –an
Dibentuk langsung dari dasar akan mempunyuai makna
gramatikal ‘tiap-tiap’ apabila bentul dasarnya memiliki komponen makna (+
ukuran atau (+ takaran ), seperti nomina bulanan, literan dan meteran pada
kalimat-kalimat berikut:
- majalah ini terbit bulanan.
- kami Cuma bisa membeli beras literan
- bahan pakaian ini dijual meteran.
Contoh lain: harian, mingguan, tahunan, koloan,
gerobakan, dan kuartalan.
2.6.3.2. nomina
bersufik –an
Dibentuk langsung dari dasar akan mempunyai makna
gramatikal ‘banyak (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+
bendaan) dan (+ kecil), seperti nomina ubanan, kutuan, dan jamuran pada kalimat
berikut:
- kakak masuh muda, tetapi rambutnya sudah ubanan.
- beras yang sudah kutuan dijual murah-murah.
Contoh lain : rambutan, buluan, panuan, kudisan,
jenggotan, kumisan, korengan.
2.6.3.3. nomina
bersufik –an
Dibentuk langsung dari dasar akan mempunyai makna
gramatikal ‘bersifat (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna
(+ keadaan), seperti nomina murahan, asinan dan manisan dalam kalimat berikut:
- saya tidak mau membeli barang murah.
- asinan ini tidak ada ketimunnya.
2.7 Nomina
bersufiks –nya
Pertama-tama perlu dicatata dulu adanya dua bentuk –nya,
yaitu pernyama, -nya sebagai pronomina persona ketiga tunggal, seperti dalam
kalimat:
-
Saya
mau minta tolong kepadanya
Kedua –nya sebagai sufiks seperti terdapat pada kata-kata
naiknya, turunnya, dan mahalnya.
Sebagai sufik –nya membentuk nomina dengan makna
gramatikal :
1.
Hal
(dasar).
2.
Penegasan
2.7.1. Nomina
bersufik –nya
Memiliki makna gramatikal ‘hal’ kalau bentuk dasanya
memiliki komponen makna (+ keadaan), seperti kata-kata naiknya, mahalnya, dan
luasnya pada kalimat-kalimat berikut:
- naiknya harga BBM mengurangi pendapatan sopir taksi.
- mahalnya harga sembako semakin melaratkan rakyat
banyak.
2.7.2.
Nomina bersufik –nya
Memiliki makna gramatikal ‘penegasan’ kalu bentuk
dasarnya memiliki komponen makna (+ bendaan) atau (+ tindakan ), seperti
kata-kata nasinya, airnya, pulangnya dan datangnya pada kalimat berikut:
- mau makan, nasinya habis.
- jangan lupa, pulangnya beli oleh-oleh.
2.8
Nomina berfrefiks ter-
Nomina berprefiks ter- dengan makna gramatikal ‘yang di
(dasar) ‘hanya terdapat sebagai istilah dalam bidang hukum. Nomina tersebut
adalah tersanghka, terperiksa, terdakwa, tergugat, tertuduh, terhujum, dan
terpidana.
2.9
Nomina berinfiks –el-, -em-, dan –er-.
Infiksasi dalam bahasa indonesia sudah tidak produktif
lagi artinya, tidak digunakan lagi untuk membentuk kata-kata baru. Sejauh ini
nomina berinfiks yang ada adalah :
-
Telapak tapak

-
telunjuk tunjuk

-
gemetar getar

-
seruling suling

2.10
Nomina bersufiks Asing
Dalam perkembangannya bahasa indonesia banyak menyerap
kosa kata asing, terutama dari bahasa arab, inggris, dan belanda. Kosa kata
asing yang diserap itu biasanya secara utuh. Artinya, kosa kata itu diserap
sekaligus dengan “sufiks” yang menjadi penanda kategori kata serapan itu.
“sufik” penanda kelas atau kategori nomina, antara lain adalah:
1.
In
pada kata hadirin
2.
At
pada kata hadirat
3.
–ah
pada kata gairah
4.
Si
pada kata kritisi
5.
–ika
pada kata fisika
6.
–ir
pada kata importir
7.
–ur
pada kata direktur
8.
–us
pada kata politikus
9.
–isme
pada kata kapitalisme
10. –sasi pada kata organisasi
11. –or pada kata aktor
BAB
III
SIMPULAN
Nomina akar adalah nomina yang yang dibentuk dari kata
dasar tanpa ada imbuhan, sedangkan nomina turunan adalah nomina yang dibentuk
dari verba yang mendapat imbukah prefik, sufik, atupun infiks.
Nomina turunan adalah
nomina yang mendapat imbuhan, adapun imbuhan tersebut antara lain
sebagai berikut:
1. Prefiks
ke-.
2. Konfiks
ke-an.
3. Prefiks
pe-.
4. Konfiks
ke-an.
5. Konfiks
per-an.
6. Sufiks
–an.
7. Sufiks
–nya.
8. Prefiks
ter-.
9. Infiks
–el, - em, - dan – er.
10. Sufiks
dari bahasa asing.
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta