Sunday, April 23, 2017

Sastra Dan Proses Kreatifnya

Sastra Dan Proses Kreatifnya

Di susun oleh:
Rali Padli
Eti Ernawati
Rusmiyati
Semester 2
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PERGURUAN TINGGI KEGURUAN
STKIP NAHDATUL ULAMA INDRAMAYU
(SK DIRJEND DIKTI NO.439/E/O/2012)
INDRAMAYU 2017

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh,
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, hingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Sastra dan proses kreatifnya”.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk membantu mahasiswa dalam mempelajari mata kuliah teori sastra
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini belum sempurna, baik dari segi isi, metode. Oleh sebab itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan dalam makalah ini.
Wssalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh



Indramayu,18 Februari 2017
                                                         
                                                                                 Penulis    

 BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang Penulisan
Karya sastra merupakan sebuah hasil kreatifitas seseorang terhadap ide, pikiran, dan perasaan yang dimiliki. Karya sastra merupakan hasilimajinasi manusia yang mengambil keadaan sekitar sebagai sumber inspirasinya. Menurut Ratna (2005:312), hakikat karya sastra adalah rekaan atau yang lebih sering disebut imajinasi. Imajinasi dalam karya sastra adalah imajinasi yang berdasarkan kenyataan. Imajinasi tersebut juga sering diimajinasikan oleh orang lain.
Meskipun pada hakikatnya karya sastra adalah rekaan, karya sastra digambarkan atas dasar kenyataan. Karya sastra pada umumnya berisi permasalahan yang berhubungandengan kehidupan manusia. Permasalahan itu bisa terjadi pada diri sendiri maupun orang lain. Seorang pengarang sering mengangkat fenomena yang terjadi di masyarakat dengan harapan agar pembaca dapat mengambil hikmah dari fenomena tersebut.

1.2       Rumusan Masalah Penulisan
1.2.1 apakan yang menjadi alasan dan dorongan seorang pengarang?
1.2.2 apakah kegiatan sebelum pengaarang menulis?
1.2.3 apakah kegiatan saat menulis?
1.2.4 apakah kegiatan setelah menulis?
1.2.5 apakah modal untuk menjadi pengarang?

1.3       Tujuan Penulisan
1.3.1 mengetahui lasan dan dorongan menjadi seorang mengarang
1.3.2 mengetahui kegiatan sebelum penulisan
1.3.3 mengetahui kegitan saat menulis
1.3.4 mengetahui kegiatan setelah menulis
1.3.5 mengetahui modal utama menjadi pengaranng
BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Alasan Dan Dorongan Menjadi Pengarang
Berikut 30 alasan yang umumnya dikemukakan:
1        Mengekspresikan diri.
2        Uang.
3        Mengembangkan bakat.
4        Membantu pembaca untuk berkembang.
5        Menyebarkan ilmu, pengetahuan, atau kebijaksanaan.
6        Memperoleh kepuasan.
7        Menggerakkan orang lain.
8        Mengkomunikasikan ide-ide, dorongan emosional, pengalaman, obsesi dan kepedulian kepada orang lain.
9        Agar terhubungkan dengan orang lain.
10     Untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik.
11    Menguji ide-ide.
12    Mengeksplorasi tema atau subyek tertentu.
13     Menguji diri sendiri.
14    Bersenang-senang.
15    Memberikan kepuasan dan hiburan bagi orang lain.
16    Katarsis bagi gejolak perasaan.
17    Agar tetap waras.
18    Untuk membujuk orang lain agar sepakat dengan pemikiran Anda.
19    Membangun reputasi, otoritas atau keahlian dalam bidang tertentu.
20    Membangun karir atau reputasi sebagai penulis.
21     Pengisi waktu yang menyenangkan.
22     Menciptakan karya seni yang bagus dan mengagumkan.
23     Menciptakan cerita yang selalu ingin Anda baca.
24     Agar meninggalkan jejak di dunia.
25     Untuk mempengaruhi pikiran orang lain berkenaan dengan isu atau topik tertentu.
26     Agar dikagumi, mendapatkan pengakuan dan rasa hormat.
27     Untuk melarikan diri dari kehidupan sehari-hari dan membantu orang lain melakukan hal yang sama.
28     Mengungkapkan kebenaran.
29     Untuk menciptakan sesuatu yang memiliki arti dan dipersembahkan untuk orang-orang terdekat.
30     Untuk membuktikan kepada diri sendiri dan orang lain bahwa Anda memiliki kemampuan untuk menjadi penulis.

Menurut Koentjaraningrat (1986: 109-110) ada tujuh macam dorongan naluri. Ketujuh dorongan itu adalah:(1) untuk mempertahankan hidup, (2) seksual, (3) untuk mencari makan, (4) untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia, (5) untuk meniru tingkah laku sesamanya, (6) untuk berbakti, dan (7) nilai keindahan.

2.2       Kegiatan Sebelum Menulis
1.      Menentukan atau memilih tema atau topik karangan. 
Langkah paling awal dalam membuat suatu karangan adalah menentukan tema atau topik karangan. Tema diartikan pokok pikiran, sedangkan topik adalah pokok pembicaraan. Apabila dilihat dari sudut sebuah karangan yang telah selesai tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam kenyataannya untuk menulis suautu karangan, penulis harus memilih suatu topik atau pokok pembicaraan. Dengan demikian, pada waktu menyusun sebuah tema untuk untuk sebuah karangan ada dua unsur yang paling dasar yaitu topik atau pokok pembicaraan dan tujuan yang hendak dicapai melalui topik tersebut. 
Bagi pengarang pemula, penentuan topik tulisan merupakan sesuatu yang agak sulit dilakukan. Dalam menetapkan topik penulis harus menguasai betul kira-kira permasalahan apa yang akan ditulis. Jadi, agar topik benar-benar terwujud pilihlah topik yang benar-benar menarik perhatian. 
Hal ini sesuai dengan pendapat Gorys Keraf (1994: 111) bahwa; 
“Sebuah topik pertama-tama haruslah menarik perhatian penulis sendir. Topik yang menarik perhatian penulis akan memungkinkan pengarang berusaha terus menerus mencari data-data untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, penulis akan didorong terus-menerus agar dapat menyelesaikan tulisan itu dengan sebaik-baiknya.” 
2.      Menetapkan tujuan 
Setiap kegiatan yang dilakukan tentu memiliki tujuan. Demikian halnya dengan mengarang atau menulis. Menetapkan tujuan tulisan adalah penting sebelum menulis. Karena tujuan sangat berpengaruh dalam menetapkan bentuk, panjang, sifat dan cara penyajian tulisan. Tujuan tulisan harus jelas suatu tulisan yang tidak dilandasi dengan tujuan yang jelas dan mungkin hanya mewujudkan tulisan yang buruk atau tidak dapat dipahami oleh pembaca. Jadi penetapan tujuan itu sangat membantu penulis dalam mengembangkan tulisannya dan dapat memberikan arah kepada penulis. Dengan menetapkan tujuan yang jelas akan membantu penulis memperoleh gambaran tentang persoalan yang akan ditulisnya dan membangkitkan semangat penulis untuk merangkaikan kata-kata yang lebih jelas dan terarah. 
3.      Mengumpulkan informasi atau bahan 
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, perlu mencari bahan berupa keterangan-keterangan yang berhubungan dengan topik tersebut. Kegiatan mengumpulkan bahan dapat dilakukan dengan cara observasi atau mengadakan pengamatan terhadap satu proses atau keinginan sesuatu yang diperlukan dan akan dijadikan sumber penulisan. 

4.      Membuat kerangka tulisan 
Kerangka tulisan adalah garis besar cerita yang akan dituangkan pada sebuah tulisan. Sebelum menulis, seorang penulis perlu menetapkan kerangka tulisan. Kerangka tulisan merupakan pedoman atau acuan penulis tentang hal-hal apa saja yang akan ditulis, sehingga dengan menggunakan kerangka tulisan alur cerita yang akan ditulis semakin jelas dan terarah. Jarang seseorang dalam menuangkan isi pikirannya sekaligus secara teratur terperinci dan sempurna tanpa sebuah kerangka tulisan. Hal ini sesuai dengan pendapat Gorys Keraf (1994:132) bahwa; “ Kerangka karangan adalah rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap.”
5.      Mengembangkan kerangka karangan 
Setelah kerangka karangan disusun, maka tahap selanjutnya adalah mengembangkannya menjadi sebuah tulisan yang utuh. Pengembangan kerangka karangan dilakukan satu persatu. Dalam penulisan atau pengembangan kerangka karangan ada beberapa unsur yang harus diperhatikan dan unsur-unsur tersebut merupakan penilaian baik tidaknya hasil karangan yang dibuat. Unsur-unsur tersebut adalah isi gagasan yang dikemukakan, organisasi isi (urutan peristiwa), tata bahasa, pilihan struktur dan kosakata serta penggunaan ejaan yang tepat. 
Di dalam penuangan isi gagasan yang dikemukakan pada sebuah tulisan, penulisan sangat dituntut untuk memiliki wawasan luas tentang apa yang ditulisnya sehingga isi tulisan benar-benar hidup. Namun demikian dalam penceritaannya, penulis harus mampu mengorganisasi isi sedemikian rupa sehingga isi cerita tidak tumpang tindih atau tidak dibicarakan berulang-ulang. Agar isi karangan mudah dipahami pembaca, gunakanlah tata bahasa yang baik, struktur kata dan kosakata yang mudah dipahami pembaca. Hal yang lebih penting lagi adalah penggunaan kalimat yang efektif. Kalimat efektif berarti kalimat tersebut sederhana namun memiliki makna yang luas. Lebih baik menggunakan kalimat yang pendek dan mudah dipahami daripada kalimat yang panjang tetapi membingungkan pembaca. Agar isi tulisan mudah dipahami pembaca, penggunaan ejaan juga harus perlu diperhatikan. Gunakan tanda baca pada tempatnya, sebab penggunaan ejaan secara serampangan akan berdampak negatif terhadap isi karangan. Bahkan penggunaan ejaan secara tidak tepat akan menyulitkan pembaca untuk memahami isi tulisan. Untuk menyusun kerangka karangan, diperlukan bahan-bahan yang dapat digali dari pengalaman, imajinasi buku-buku, majalah, Koran, wawancara, dan lain-lain. Setelah bahan terkumpul, pokok pikiran tersebut kita susun dengan baik dan tidak boleh sembarangan. Mana cerita yang harus diletakkan pada bagian awal dan mana pula yang harus diletakkan pada bagian akhir.
       
2.2.1      Penentuan Pikiran Utama
Salah satu ciri utama tulisan yang baik adalah kesatuan gagasan antarparagrafnya. Sebuah tulisan (karangan) akan menjadi jelas jika mempunyai kesatuan, yaitu semua detail yang berupa contoh, alasan ataupun fakta yang digunakan harus tidak menyimpang dari pikiran utama. Menurut Mukhsin Ahmadi (1991 : 13) menyatakan bahwa:
Pikiran utama adalah pengenadali suatu karangan sehingga dengan pikiran utama dimaksudkan isi karangan tidak akan menyimpang. Karangan tersebut ditulis dalam bentuk paragraf dan tiap paragraf mempunyai pikiran utama. Pikiran utama yang paling baik diletakkan pada kalimat pertama pada paragraf.

2.2.2      Pembentukan Paragraf
“Paragraf merupakan suatu pikiran atau perasaan yang tersusun teratur berupa kalimat-kalimat berfungsi sebagai bagian dari suatu satuan yang lebih besar” (Mukhsin Ahmad, 1991 : 1). Agar sebuah karangan mudah ditangkap pembaca dengan jelas, maka perlulah disusun suatu paragraf. Paragraf biasa tersusun dari beberapa buah kalimat yang saling berhubungan sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh untuk menyampaikan suatu maksud.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa paragraf adalah satu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari pada kalimat. Paragraf merupakan kumpulan kalimat yang berkaitan dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Berkaitan dengan paragraf Akhadiah, (Agus Suryamiharja, 1996 : 46), menjelaskan bahwa “Dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat utama atau kalimat topik, kalimat penjelas sampai kalimat penutup”.
Fungsi dari paragraf dalam karangan adalah “1) Sebagai penampung dari sebagian kecil jalan pikiran atau ide keseluruhan karangan, 2) Memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok karangan. (Tarigan, 1996:48). Menurut Suriamuharja (1996 : 48) “Paragraf baik dan efektif harus memenuhi tiga parsyaratan, yaitu (1) Kohesi (Kesatuan ) ; (2) Koherensi (Kepaduan) ; dan (3) Pengembangan / Kelengkapan paragraf”

2.3       Kegiatan Pada Saat Menulis
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan menulis:
1.      Kohesi (Kesatuan)
Kohesi/kesatuan dalam paragraf adalah semua kalimat yang membina paragraf secara bersama-sama menyatakan satu hal, satu tema tertentu”.


2.      Koherensi (Kepaduan)
Koherensi / keterpaduan dalam paragraf adalah kekompakan hubungan antar sebuah kalimat denngan kalimat yang lain yang membentuk paragraf itu”.
3.      Pengembangan / Kelengkapan paragraf
Pengembangan paragraf adalah penyusunan atau perincian dari gagasan-gagasan yang membina paragraf itu”, Suatu paragraf dikatakan berkembang atau lengkap jika kalimat topik atau kalimat utama dikembangkan atau dijelaskan dengan cara menjabarkannya dalam bentuk-bentuk kongkrit, dapat dengan cara pemaparan dan pemberian contoh, penganalisaan dan nilai-nilai.
4.      Penulisan Kalimat
Kalimat dalam karangan harus jelas dan mudah dipahami, karena kalimat tertulis dalam beberapa hal tidak sama dengan kalimat tutur. Kalimat yang jelas dan terang dalam bahasa percakapan (tutur), tidak selamanya jelas dan terang jika dituliskan. Sebab intonasi dalam bahasa tutur sulit untuk diterjemahkan dalam bahasa tulis.
Setiap kalimat pada satu karangan pada dasarnya disusun oleh unsur-unsur yang membentuknya. Unsur-unsur kalimat itu tidak lain adalah kata-kata. Kata-kata itulah yang membentuk kalimat. Bagian-bagian kalimat sering disebut konstituen. Bagian-bagian kalimat tersebut antara lain sebagai berikut :
a.       Subjek
Subjek kalimat sangat menetukan kejelasan makna sebuah kalimat. “Jabatan atau fungsi subjek dalam kalimat biasanya dapat diketahui dengan jalan mengajukan pertanyaan apa, atau siapa yang dibicarakan dalam karangan” (Yohanes, 1991 : 6).
b.      Predikat
Predikat kalimat kebanyakan muncul secara eksplisit. Predikat juga sangat menentukan kejelasan makna sebuah kalimat. “Ciri-ciri predikat terletak dibelakang subjek serta berbentuk verba atau kata kerja” (Yohanes, 1991 : 6).
c.       Objek
Kehadiran objek dalam kalimat tergantung pada jenis predikat kalimat serta ciri khas objek itu sendiri. “Objek pada umumnya berbentuk nomina atau kata benda, atau di belakang kata tugas “oleh” dalam kalimat pasif” (Yohanes, 1991 : 7).
d.      Keterangan
Tempat jabatan keterangan dalam kalimat biasanya bebas dan cakupan semantik keterangan lebih kuat yaitu membatasi unsur kalimat atau seluruh kalimat. Bagian keterangan dalam kalimat Bahasa Indonesia menyatakan banyak makna, namun yang sering ditemukan dalam pemakaian bahasa sehari-hari adalah keterangan waktu, keterangan tempat, keterangan tujuan, keterangan instrumental. (Yohanes, 1991 : 7).
e.       Penggunaan Tanda Baca
Karangan selalu berupa bahasa yang tertulis. Dalam beberapa hal bahasa tertulis tidak sama dengan bahasa lisan, banyak alat-alat bahasa seperti lagu, jeda, tinggi rendah suara, sukar digambarkan dalam bahsa tulis. Untuk melengkapi kekurangan itu, maka dibuatlah tanda baca. Menurut Poerwardarminta (1967 : 14), “Tanda baca dapat membantu menjelaskan maksud atau makna kalimat”. Dengan tanda baca penulis dapat menyampaikan maksudnya dengan lebih jelas. Sedang pembaca pun dapat pula menangkap maksud kalimat dengan lebih mudah. Oleh karena itu, makna “tanda baca tidak boleh diabaikan dalam tulis-menulis. Macam-macam tanda baca antara lain sebagai beikut :
1)      Titik
Tanda titik dipakai sebagai tanda bahwa kalimat telah selesai. Pokok tugasnya adalah sebagai pengunci kalimat.
2)      Koma
Tanda koma paling sering dipakai dalam tulis menulis. Pokok tugasnya adalah untuk menyatakan jeda sejenak, menyekat hubungan-hubungan yang perlu dijelaskan. Pada umumnya koma dipakai untuk menyekat kata atau frase sejenis dan setara.
3)      Titik Dua
Titik dua digunakan untuk menegaskan keterangan atau penjelasan sebagai tambahan sesuatu yang telah tersebut dalam kalimat terdahulu. Titik dua juga dapat digunakan untuk menyatakan perincian berbagai hal, benda yang disebutkan berturut-turut, serta untuk menyatakan kutipan perkataan seseorang.
4)      Tanda Seru dan Tanda Tanya
Tanda seru pada pokoknya untuk mengintesifkan penuturan. Biasa dipakai untuk menyatakan perasaan yang kuat seperti perintah, melarang, heran, menarik perhatian, tak percaya, dan sebagainya. Sedangkan tanda tanya sudah tentu dipakai untuk menyatakan pertanyaan, baik pertanyaan yang sesungguhnya maupun yang bersifat menyangsikan.

2.4       Kegiatan Setelah Menulis
kegiatan yang dilakukan sastrawan setelah menulis karya sasra bisa berupa keiatan melakukan revisi, melakukan perenungaan, dan akan meulis karya yang baru lagi atau memutuskan berhenti menulis.
1.       Revisi
Revisi adalah kegiatan yang dilakukan sastrawan setelah menulis karya sastra, revisi di sini bisa dalam bentuk mengetik ulang tulisan yang berupa tulisan tangan, revisi juga bisa dalam bentuk mengubah tulisan yang sudah jadi.
2.      Renungan
Renungan adalah memerikas kembali karyanya melihat kembali bagaimana proses pnulisannya, melihat hubungan karyanya dengan karya sastra dan bacaan lain, serta melihat hubungan karyanya dengan pengalaman-pengalamannya.
3.      Akan menulis lagi ataukah berhenti menulis
Seorang sastrawan bisa mengambil keputusan: apakah ia akan menulis karya satra lagi ataukah ia berhenti menulis.

2.5       Modal Menjadi Sastrawan
apakah yang menjadi modal kita ingin menulis? Secara umum, syafi’ie (1988: 70-90) mengemukakan kemampuan-kemampuan yang harus di miliki oleh seorang penulis. Kemampuan yang harus dimiliki seorang penulis adalah bakat (meskipun tidak mutlak), bekerja keras, keberanian, keyakinan tentang apa yang ditulis adalah benar dan perlu, dapat memandang sesuatu secara proporsional, dapat berfikir logis, bertanggung jawab,terhadap apa yang dikemukakan, dapat mengkritik diri sendiri, peka terhadap apa yang terjadi dalam masyarakat. Selain itu, seorang penulis juga memerlukan kemampuan menemukan masalah yang akan ditulis, kepekaan terhadap kondisi oembaca, menyusun perencanaan penulisan, menggunakan bahasa Indoneia, memulai menulis, dan memeriksa naskah karangan sendiri.



BAB III
PENUTUP
3.1       Simpulan
3.1.1 Menurut Koentjaraningrat (1986: 109-110) ada tujuh macam dorongan naluri. Ketujuh dorongan itu adalah:(1) untuk mempertahankan hidup, (2) seksual, (3) untuk mencari makan, (4) untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia, (5) untuk meniru tingkah laku sesamanya, (6) untuk berbakti, dan (7) nilai keindahan.
3.1.2        kegiatan sebelum menulis
1)      Menentukan atau memilih tema atau topik karangan.
2)      Menetapkan tujuan
3)      Mengumpulkan informasi atau bahan 
4)      Membuat kerangka tulisan
5)      Mengembangkan kerangka karangan 
3.1.3        hal yang harus diperhatikan saat menulis
1)      kohesi
2)      koherensi
3)      pengembangan
4)      penulisan kaliamat
3.1.4        kegiatan setelah menulis
1)      revisi
2)      renungan
3)      akan memutusan menulis lagi ataukah berhenti menulis
3.1.5        modal menjadi sastrawan
Kemampuan yang harus dimiliki seorang penulis adalah bakat (meskipun tidak mutlak), bekerja keras, keberanian, keyakinan tentang apa yang ditulis adalah benar dan perlu, dapat memandang sesuatu secara proporsional, dapat berfikir logis, bertanggung jawab,terhadap apa yang dikemukakan, dapat mengkritik diri sendiri, peka terhadap apa yang terjadi dalam masyarakat. Selain itu, seorang penulis juga memerlukan kemampuan menemukan masalah yang akan ditulis. 

sumber :

No comments:

Post a Comment

Naskah Drama "Balada Saridin"

Pemain : 1.       Saridin 2.       Aisyah 3.       Sari (teman Aisyah) 4.       Siti (teman Aisyah) 5.       Ayah Aisyah 6.  ...