Sunday, April 23, 2017

“Menganalisis Puisi Andai-Andai Naik Kelas Karya Cak Rufi”

“Menganalisis Puisi
 Andai-Andai Naik Kelas
Karya Cak Rufi”
Mata Kuliah  : Apresiasi Puisi Indonesia
DSCN5243.jpg
Disusun oleh        : Kelompok
Nama Mahasiswa :  1. Rudiyanto
                                 2. Siti Nur Aisyah
                                 3. Siti Patonah
                                 4. Ibnu Mubarok
                                5. Windi Afiyatun
                                6. Rina Raudlatul Jannah
Semester              : 2 (Dua)
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN NAHDLATUL ULAMA

 STKIP NU KAPLONGAN INDRAMAYU 

BAB I
    PENDAHLUAN
1.1       Latar Belakang Penulisan
Karya sastra merupakan seni dalam kehidupan, banyak orang yang mengekspersikan dirinya melalui karya sastra. Jenis-jenis karya sastra banyak sekali di antaranya adalah puisi. Karya sastra khususnya puisi adalah kenyataan di atas khayalan. Puisi merupakan karya sastra berupa tulisan yang dibuat oleh seorang penyair melalui kata-kata yang indah. Puisi populer di dunia pendidikan Indonesia yang masuk dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
Puisi adalah suatu karangan imajinatif oleh seorang penyair, dan puisi terbentuk dari dua struktur yang saling mendukung. Waluyo (1987:25) mengatakan ada dua struktur yang membentuk yaitu struktur batin puisi dan struktur fisik puisi kedua struktur ini telah lama dikenal dalam pembelajaran puisi di Indonesia. Di dalam kedua struktur tersebut  masih banyak lagi unsur-unsur yang membentuk.
Struktur fisik puisi merupakan struktur yang terlihat dari puisi tersebut secara kasat mata. Struktur fisik puisi terbentuk dari diksi, pengimajian, kata konkret, majas versifikasi dan tipografi. Sedangkan struktur batin adalah struktur yang berada dalam puisi tetapi secara tersirat, struktur batin puisi terbentuk dari tema, nada, perasaan dan amanat. Mengenai struktur fisik dan strukur batin puisi akan coba dibahas lebih mendalam dalam makalah ini melalui puisi yang berjudul “Andai-andai Naik Kelas”, karya Cak Rufi.




1.2       Rumusan Masalah Penulisan
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada makalah ini adalah.
1.      Bagaimana struktur fisik dari puisi “Andai-andai Naik Kelas”, karya Cak Rufi ?
2.      Bagaimana struktur batin dari puisi “Andai-andai Naik Kelas”, karya Cak Rufi ?

1.3       Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini ada dua aspek, yaitu sebaai berikut :
1.        Mendeskripsikan struktur fisik dari puisi “Andai-andai Naik Kelas”, karya Cak Rufi.
2.        Mendeskripsikan struktur batin dari puisi “Andai-andai Naik Kelas”, karya Cak Rufi.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1              Pengertian Puisi Menurut Beberapa Ahli

1.      Herman Waluyo: Pengertian puisi menurut herman waluyo adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia.
2.      Sumardi: Pengertian puisi menurut sumardi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).
3.      Thomas Carlye: Pengertian puisi menurut thomas carley adalah ungkapan pikiran yang bersifat musikal. 
4.      James Reevas: Pengertian puisi menurut James Reevas bahwa arti puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat.
5.      Pradopo: Pengertian puisi adalah rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan.
6.      Herbert Spencer: Pengertian puisi adalah bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan keindahan. 
Secara umum, Pengertian Puisi adalah bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang terikat irama, matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna.

  

2.2              Puisi Andai-Andai Naik Kelas
ANDAI-ANDAI NAIK KELAS
Emak, ketika pesta panen bulan depan. Kala saatnya guru membagikan rapor kenaikan kelas. Jangan sambat pada dukun untuk menghapus warna merah, prestasi tak bisa digapai lewat sesaji dan jampi-jampi.
Emak, andai naik kelas rangking pertama, belikan sepatu yang bisa menyala seperti anak-anak kota. Dengan memakai sepatu berlampu akan menjadi semakin jelas siapa yang harus ditendang dan siapa yang diinjak-injak.
Emak, di kelas enam ada guru yang galak bukan kepalang, padahal nama guru diambil dari kitab suci, pernah ada oknum murid yang ditempeleng gundulnya, karena tidak bisa menjawab pertanyaan di kelas, ditanya siapa nama presiden Israel dijawab Liem Sioeliong, yang benarkan Edi Tanzil!. Pernah juga penghapus melayang dijidat temanku, karena lebih banyak mengenal kabinet menteri penerangan, namun tak mengetahui siapa nama mentri pendidikan.
Emak, bila rapor bebas angka merah, kelak aku lebih suka jadi petani, Menggarap sawah entah milik siapa. Bila ada tiga nilai merah kuhendak jadi wartawan, yang mengetahui segala hal namun tak tau nasib sendiri. Bila ada lima nilai merah kuhendak jadi tentara, sebagai tentara sungguh seperti anak balita, potong rambut dan nonton bioskop bayar setengah harga. Bahkan tentara yang sial pun bisa menjadi wali kota. Bila seluruh angka rapor merah membara, tak perlu lagi system pendidikan diteruskan, sebab hanya akan melahirkan anak-anak metal, yang gagal menjadi generasi pembayar hutang masadepan.
Emak, hama wereng datang menyerang, paceklik menghadang, pesta panen batal dilaksanakan. Maka rapor kenaikan kelas tak juga disampaikan. Anak didik makin gelisah di ruang kelas yang sumpek dan lembab bagai pasar sayur-mayur. Murid-murid bertumpuk seperti cabai rawit, kol gepeng, wortel tanpa daun, lombok keriting dan bayam ikatan dilempar ke pasar induk dengan harga menyedihkan.
Emaaaaaaaaaaaaaak.
2.3              Menganalisis Puisi Andai-Andai Naik Kelas
2.3.1        Struktur Fisik Puisi
1)      Diksi
Diksi adalah makna kiasan yang harus dipahami secara seksama dan menyeluruh.

Bait 1
“Jangan sambat pada dukun” , yang artinya jangan mengadu.

Bait 3
“Guru yang galak bukan kepalang”, yang artinya seorang guru yang sangat galak

“Penghapus melayang”, yang artinya penghapus yang dilempar

Bait 4
“Menggarap sawah” , yang artinya mengerjakan suatu pekerjakan di sawah

“Merah membara”, yang artinya nilai raport yang sangat jelek

2)      Imaji
Imaji yaitu kata atau susunan kata yang mengungkapkan pengalaman indrawi, misalnya penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji terbagi atas tiga yakni imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan apa yang dialami penyair.
1). Imaji penglihatan
“Emak, andai naik kelas rangking pertama, belikan sepatu yang bisa menyala seperti anak-anak kota”
 “Murid-murid bertumpuk seperti cabai rawit, kol gepeng, wortel tanpa daun, lombok keriting dan bayam ikatan dilempar ke pasar induk dengan harga menyedihkan”
                        2). Imaji raba atau sentuh
”Dengan memakai sepatu berlampu akan menjadi semakin jelas siapa yang harus ditendang dan siapa yang diinjak-injak”
“pernah ada oknum murid yang ditempeleng gundulnya, karena tidak bias menjawab pertanyaan dikelas”
                        3). Imaji suara
 “Emaaaaaaaaaaaaaak”

3)      Kata kongkret
Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang.

1.      “penghapus melayang”, penghapus yang dilempar
2.      “Bila seluruh angka rapor merah membara”,  nilai yang sangat jelek
3.      “paceklik menghadang”, memasuki masa yang sangat sulit





4)      Bahasa figuratif
1.      Bahasa kiasan
“Emak, bila rapor bebas angka merah, kelak aku lebih suka jadi petani, Menggarap sawah entah milik siapa. Bila ada tiga nilai merah ku hendak jadi wartawan, yang mengetahui segala hal namun tak tau nasib sendiri. Bila ada lima nilai merah ku hendak jadi tentara, sebagai tentara sungguh seperti anak balita, potong rambut dan nonton bioskop bayar setengah harga. Bahkan tentara yang sial pun bisa menjadi walikota. Bila seluruh angka rapor merah membara, tak perlu lagi system pendidikan diteruskan, sebab hanya akan melahirkan anak-anak metal, yang gagal menjadi generasi pembayar hutang masa depan”
Dalam penggalan puisi tersebut jelas sekali terlihat menggunakan majas ironi. Ironi yakni kata-kata yang bersifat berlawanan untuk memberikan sindiran.
2.      Pelambangan
“Emak, ketika pesta panen bulan depan. Kala saatnya guru membagikan rapor kenaikan kelas.Jangan sambat pada dukun untuk menghapus warna merah, prestasi tak bisa digapai lewat sesaji dan jampi-jampi”

Puisi di atas menggunakan lambang warna untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh penyair. Selain itu, penggunaan lambang warna yang terlihat pada kata “menghapus warna merah” juga dituliskan secara berulang-ulang oleh penyair.




5)      Verifikasi (rima, ritme, dan metrum)
1.      Rima
Rima adalah pengulangan bunyi yang sama dalam puisi yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi.
“karena kebih banyak mengenal cabinet mentri penerangan, namum tak mengetahui siapa nama mentri pendidikan
“Bila ada lima nilai merah ku hendak jadi tentara, sebagai tentara sungguh seperti anak balita, potong rambut dan nonton bioskop bayar setengah harga. Bahkan tentara yang sial pun bias menjadi walikota
”Emak, hama wereng datang menyerang, paceklik menghadang
2.      Ritma/ritme/irama
Ritme adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi.

3.      Metrum
Metrum dalam larik puisi artinya ukuran irama yang ditentukan oleh jumlah dan panjang tekanan suku kata dalam setiap baris. Setiap satu suku kata satu ketukan. Metrum dalam puisi sangat menentukan pembacaan yang dipanggungkan.
Ketukan pembacaan puisi pada setiap pemenggalan kata bisa berpengaruh pada makna. Artinya, bila tidak tepat memenggal setiap kata ketika membaca puisi bisa mengubah tafsir.

6)      Tipografi
Perwajahan puisi (puisi tipografi), adalah bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.

Tipografi yang terdapat pada puisi yang berjudul “Andai-andai Naik Kelas”, memiliki larik yang panjang.


2.3.2        Struktur Batin Puisi
1)      Tema
Tema puisi adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair lewat puisinya.

Tema yang terdapat pada puisi yang berjudul “Andai-andai Naik Kelas” yaitu tentang keadilan sosial tanpa pandang bulu.

2)      Rasa
Rasa (Feeling) yaitu sikap penyair mengenai pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.

Rasa yang terdapat pada puisi yang berjudul “Andai-andai Naik Kelas” menunjukkan rasa keprihatinan terhadap ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat.

3)      Nada
Nada (tone)  adalah sikap penyair terdapat pembacanya. Nada berhubungan dengan tema dan rasa.

Nada yang terdapat pada puisi yang berjudul “Andai-andai Naik Kelas” ini, penyair mengungkapkan kekesalan, kemarahan, dan kekecewaanya terhadap proses diskriminasi sosial.

4)      Amanat/Pesan
Amanat yang terdapat pada puisi yang berjudul “Andai-andai Naik Kelas” , yaitu penyair berusaha memberitahukan bahwa seharusnya  dunia pendidikan dan jabatan pekerjaan tidak dinilai dari berapa besar nilainya dan berapa besar uang yang dipakai untuk menyuap, tetapi dinilai juga dari sikap dan pribadi yang berakhlak.



BAB III
PENUTUP
3.1       Simpulan
Puisi adalah suatu karangan imaginatif oleh seorang penyair, dan puisi terbentuk dari dua struktur yang saling mendukung. Waluyo (1987:25) mengatakan ada dua struktur yang membentuk yaitu struktur batin puisi dan struktur fisik puisi kedua struktur ini telah lama dikenal dalam pembelajaran puisi di indonesia. Di dalam kedua struktur tersebut  masih banyak lagi unsur-unsur yang membentuk.
Struktur fisik puisi merupakan struktur yang terlihat dari puisi tersebut secara kasat mata. Struktur fisik puisi terbentuk dari diksi, pengimajian, kata konkret, majas versifikasi dan tipografi. Sedangkan struktur batin adalah struktur yang berada dalam puisi tetapi secara tersirat, struktur batin puisi terbentuk dari tema, nada, perasaan dan amanat.
3.2       Saran
            Semoga dengan kita mempelajari dan memahami struktur puisi, baik itu struktur fisik maupun struktur batin, kita semakin tertarik untuk berkarya di dalam menciptakan sebuah puisi. Jadi  kita tidak hanya berperan sebagai pembaca, tapi juga sebagai penyair.


  DAFTAR PUSTAKA

No comments:

Post a Comment

Naskah Drama "Balada Saridin"

Pemain : 1.       Saridin 2.       Aisyah 3.       Sari (teman Aisyah) 4.       Siti (teman Aisyah) 5.       Ayah Aisyah 6.  ...