Sunday, April 23, 2017

“Evaluasi Metode Pembelajaran Membaca yang Menyenangkan Bagi Peserta Didik”

“Evaluasi Metode Pembelajaran Membaca yang Menyenangkan Bagi Peserta Didik”
Oleh :
1.    Abdul Majid
2.    Ade Fahmi Alamsyah
3.    Ibnu Mubarok
4.    Rali Padli
5.    Risky Pujiono
6.    Romanto
7.    Rudiyanto

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
                           NAHDLATUL ULAMA INDRAMAYU   
                                     (STKIP NU INDRAMAYU)     
SK DIRJEND DIKTI NO. 439/E/O/2012
Tahun 2017

Evaluasi Metode Pembelajaran Membaca yang Menyenangkan
 Bagi Peserta Didik
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan penyediaan sistem lingkungan yang mengakibatkan terjadinya proses belajar pada diri siswa dengan mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan potensi yang ada pada diri siswa tersebut. Dengan demikian, guru diibaratkan sebagai sutradara seyogyanya merencanakan dengan matang skenario dalam RPP agar siswa beraktivitas tinggi melalui penalaran, mencoba, eksplorasi, konjektur, hipotesis, generalisasi, inkuiri, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Pada proses pembelajaran hindari perilaku siswa hanaya bertindak sebagai penonton dan bersikap menerima. Agar siswa bisa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran sehingga menciptakan suasana kondusif, nyaman, dan menyenangkan. Pembelajaran adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. (Corey, 1986:195)
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi belajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan. Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Selain itu ada juga 4 keterampilan berbahasa, yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis.
            Hodgson (Tarigan, 1994 : 7) mengatakan bahwa membaca adalah merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan satu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka kesan yang tersurat dan tersirat akan tertangkap atau dipahami dan proses membaca ini tidak akan terlaksana dengan baik.
            Secara umum, terdapat dua faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya minat baca siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, seperti pembawaan, kebiasaan dan ekspresi diri. Sementara faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, baik dari lingkungan keluarga, tentangga maupun lingkungan sekolah. Faktor eksternal ini mempengaruhi adanya motivasi, kemauan, dan kecenderungan untuk selalu membaca.
            Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menguasai pembelajaran membaca di sekolah mereka. Apakah mereka tertarik dengan metode pembelajaran membaca di sekolahnya ? Apakah mereka merasa bosan dengan metode pembelajaran membaca yang dianggap membosankan ?
            Dari hasil penelitian melalui kegiatan wawancara terhadap 10 siswa SMA/SMK kelas 11, ternyata mayoritas dari sejumlah siswa tidak menyukai metode pembelajaran membaca di sekolah mereka, bahkan ada sebagian dari mereka yang tidak suka membaca. Hal ini dikarenakan metode pembelajaran di sekolah mereka terlalu monoton. Guru hanya masuk ke kelas, kemudian menyuruh siswa membaca buku bacaan, setelah itu guru langsung memberikan tugas merangkum isi bacaan. Memang ada beberapa guru yang benar-benar memberikan penjelasan, tapi penjelasan itu terkesan seperti ceramah, sehingga peserta didik tidak bisa berekspresi dan tidak bisa berinteraksi  dengan gurunya. Selain itu, ada juga beberapa siswa yang menilai pembelajaran membaca itu sangat membosankan jika hanya di dalam kelas, mereka menginginkan sesekali metode pembelajaran dilakukan di luar kelas agar siswa bisa lebih mudah untuk berinteraksi dengan lingkungan dan alam sekitarnya.
            Proses pembelajaran di sekolah masih terkesan membosankan. Pada proses pembelajaran di sekolah, terutama pembelajaran membaca, tidak harus dilakukan di dalam kelas. Guru juga bisa melakukan metode terbuka di luar kelas agar siswa berinteraksi dengan alam kemudian kita menyuruh siswa untuk menuangkan ide dan gagasan yang mereka dapat dari lingkungan untuk dituangkan atau diekspresikan ke dalam bentuk tulisan. Metode ceramah pada saat proses pembelajaran juga seharusnya sudah dikurangi oleh guru. Berikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan gurunya. 


No comments:

Post a Comment

Naskah Drama "Balada Saridin"

Pemain : 1.       Saridin 2.       Aisyah 3.       Sari (teman Aisyah) 4.       Siti (teman Aisyah) 5.       Ayah Aisyah 6.  ...