Sunday, April 23, 2017

METODE PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA

METODE PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA

M A K A L A H
Mata Kuliah: Aswaja
Program Bidang Study / Semester: PBSI / 2 A




Disusun oleh KELOMPOK 1 :
Ade Fahmi Alamsyah
Dewi Dwiyanti

PENDIDIKAN BAHASA DN SASTRA INDONESIA (PBSI)
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU DAN PENDIDIKAN
NAHDLATUL ULAMA INDRAMAYU

(STKIP NU INDRAMAYU)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah ASWAJA dengan judulPenyebaran Islam di Nusantara”.
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun mendapat masukan dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga makalah ini bisa selesai. Untuk itu pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penyusun  menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penyusun. Untuk itu penyusun Mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi lebih baik laginya makalah ini.
Akhir kata, penyusun berharap agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya.


Indramayu, 24 Februari 2017

Penyusun

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Penulisan
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi para pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa.
Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab tersebut. Meskipun belum tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia.
1.2  Rumusan Masalah Penulisan
1.      Dimana dan Bagaimanakah penyebaran islam di wilayah Nusantara?
2.      Bagaimanakah metode masuknya islam di Indonesia?
3.      Bagaimana Gerakan Dakwah Islam ?
1.3  Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengingat tentang bagaimana islam masuk ke indonesia.
2.      Supaya kita mencontoh bagaimana cara berdakwah yang baik.
3.      Mengenang kembali jasa-jasa para pejuang terdahulu.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Penyebaran Islam di Beberapa Wilayah Nusantara
a.       Di Sumatra
Kesimpulan hasil seminar di Medan tersebut, wilayah Nusantara yang mula-mula dimasuki Islam adalah pantai barat, pulau sumatra, dan  daerah pasai yang terletak di Aceh utara yang kemudian di masing-masing kedua daerah tersebut berdiri kerjaan islam perlak dan samudra pasai.
b.      Di Jawa
Benih-benih kedatangan Islam ke tanah Jawa sebenarnya sudah dimulai pada abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 M. Hal ini dituturkan oleh Prof. Dr.Buya hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam, bahwa pada tahun 674 M sampai 675 M.
Sahabat Nabi, Muawiyyah bin Abi Sufyan pernah singgah di tanah Jawa (Kerajaan Kalingga) menyamar sebagai pedagang. Bisa jadi Muawiyyah saat itu baru penjajagan saja, tapi proses dakwah selanjutnya dilakukan oleh para da’i yang berasal dari Malaka atau Kerajaan Pasai sendiri. Sebab saat itu lalu lintas atau jalur hubungan antara Malaka dan Pasai disatu pihak dengan jawa dipihak lain sudah begitu pesat.
2.2  Metode Masuknya Islam di Indonesia
Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara damai dan persuasif berkat kegigihan para ulama karena para ulama berpegang teguh pada prinsip
”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhultali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (Al-Baqarah: 256)
Adapun cara masuknya islam di Indonesia melalui beberapa cara antara lain :
•           Perdagangan
Pada abad ke-7 M, bangsa Indonesia kedatangan para pedagang Islam dari Gujarat/India, Persia, dan Bangsa Arab. Saat berdagang terjadilah komunikasi antara penjual dan pembeli, atas interaksi ini maka terjadilah penyebaran agama Islam. Sebagai seorang muslim mempunyai kewajiban berdakwah maka para pedagang Islam juga menyampaikan dan mengajarkan agama dan kebudayaan Islam kepada orang lain, akhirnya banyak pedagang Indonesia memeluk agama Islam dan merekapun menyebarkan agama Islam dan budaya Islam yang baru dianutnya kepada orang lain. Secara bertahap agama dan budaya Islam tersebar dari pedagang Gujarat/India, Persia, dan Bangsa Arab kepada bangsa Indonesia. Proses penyebaran Islam melalui perdagangan sangat menguntungkan dan lebih efektif dibanding cara lainnya.
•           Perkawinan
Sebagian para pedagang Islam ada yang menetap di Indonesia dan para pedagang ini menikah dengan wanita Indonesia, terutama putri raja atau bangsawan. Karena pernikahan itulah, maka banyak keluarga raja atau bangsawan masuk Islam. Ketika keluarga raja dan bangsawan memeluk agam islam, akhirnya diikuti oleh rakyatnya. Dengan demikian Islam cepat berkembang.
•           Pendidikan
Perkembangan Islam yang cepat menyebabkan muncul tokoh ulama yang menyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren. Pesantren adalah tempat pemuda pemudi menuntut ilmu yang berhubungan dengan agama Islam. Setelah para pelajar tersebut selesai dalam menuntut ilmu mengenai agama Islam, mereka mengajarkan kembali ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat sekitar, hingga akhirnya masyarakat sekitar menjadi pemeluk agama Islam.
•           Politik
Seorang raja mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar dan memegang peranan penting dalam proses penyebaran agama Islam tersebut. Jika raja sebuah kerajaan memeluk agama Islam, maka rakyatnya akan memeluk agama Islam juga. Alasannya karena masyarakat Indonesia memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap rajanya. Demi kepentingan politik maka Raja akan mengadakan perluasan wilayah kerajaan, yang diikuti dengan penyebaran agama Islam.
•           Melalui Dakwah di Kalangan Masyarakat
Masyarakat Indonesia sendiri memilki para pendakwah yang menyebarkan Islam di lingkungannya, seperti Dato’ri Bandang menyebarkan agama Islam di daerah Gowa, Sulawesi Selatan; Tua Tanggang Parang menyebarkan Islam di daerah Kutai, Kalimantan Timur; Penghulu dari Demak menyebarkan agama Islam di kalangan para bangsawan Banjar, Kalimantan Selatan; Para Wali menyebarkan agama Islam di Jawa dan ada 9 wali yang terkenal, mereka memegang beberapa peran di kalangan masyarakat sebagai penyebar agama Islam, pendukung kerajaan-kerajaan Islam, penasihat raja-raja Islam dan pengembang kebudayaan daerah yang telah disesuaikan dengan budaya Islam. Atas perannya para wali sangat terkenal di kalangan masyarakat.
•           Seni Budaya
Perkembangan Islam juga melalui seni budaya, seperti bangunan (masjid), seni pahat, seni tari, seni musik, dan seni sastra. Beberapa seni ini banyak dijumpai di Jogjakarta, Solo, dan Cirebon. Seni ini dibuat dengan cara mengakrabkan budaya daerah setempat dengan ajaran Islam yang disusupkan ajaran tauhid yang dibuat sederhana, sehalus dan sedapat mungkin memanfaatkan tradisi lokal.
2.3  Gerakan Dakwah Islam di Pulau jawa lainnya
Agama Islam berkembang di Indonesia karena adanya peran para ulama yang dengan gigih menyebarkan ajara Islam. Ulama yang datang ke Indonesia tersebar mulai dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Cara penyebaran Islam yang dilakukan Wali Songo sangat menarik. Mereka mampu menggunakan metode-metode yang memudahkan ajaran Islam diterima oleh berbagai golongan masyarakat. Misalnya, dengan menggunakan sarana-sarana yang telah dikenal dalam masyarakat, antara lain melalui pendekatan kebudayaan, seperti pertunjukan wayang.
Dalam sejarahnya di Indonesia, wali mempunyai peranan sebagai berikut.
 Menjadi guru agama atau mubalig yang bertugas menyiarkan agama. Biasanya mereka mendirikan masjid dan pesantren, yakni tempat orang berkumpul memperdalam ajaran agama.
Menjadi penasihat raja, bahkan ada yang menjadi raja, sehingga wali diberi gelar Sunan, suatu gelar yang dipergunakan oleh para raja di Jawa.
Menjadi panutan masyarakat atau tokoh agama.
 Memberi doa restu atau memimpin upacara dan ibadah.
Sebagai pengembang kebudayaan setempat yang disesuaikan dengan kebudayaan Islam.
Sebagai ahli siasat perang.




Metode yang digunakan oleh Wali Songo/ulama dalam menyebarkan agama Islam antara lain sebagai berikut.
a. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim atau Syeh Maulana Maghribi)
Pada tahun 1404 ia tiba di Jawa dari pasai dan menetap di Leran, Gresik. Dengan kehalusan budi pekerti dan kedermawanannya ia mengajarkan agama Islam mulamula kepada para murid yang kebanyakan adalah para pedagang dari Gujarat. Pada tanggal 9 April 1419 ia wafat dan dimakamkan di Gresik. Berkat jasanya, Gresik menjadi pusat penyiaran agama Islam di Jawa Timur.
b. Sunan Ampel (Raden Rakhmad atau Sayid Ali Rahmatullah)
Ia didatangkan dari Campa oleh Raja Kertabumi pada zaman Majapahit. Oleh raja ia ditugaskan untuk memperbaiki akhlak rakyat Majapahit yang mulai rusak. Ia mendirikan pondok pesantren di Ampeldenta, Surabaya. Sunan Ampel menyebarkan agama Islam di Surabaya dan sekitarnya. Meninggal pada tahun 1481 dan dimakamkan di Ampel.
c. Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim)
Semasa muda, ia belajar agama Islam di Pasai. Sekembali dari Pasai, ia mendirikan pesantren di Tuban. Disebut Sunan Bonang karena dalam melakukan dakwah ia mempergunakan bonang (salah satu instrumen jawa) untuk menarik orang supaya datang. Ia meninggalkan karya sastra, yaitu “Primbon Sunan Bonang”.
d. Sunan Gunung Jati
Ia mempunyai sebutan nama yang banyak antara lain: Fatahillah, Faletehan, Syarif Hidayatullah, dan Muhammad Nurudin. Sunan Gunung Jati belajar agama Islam di Mekah dan Bagdad, dalam perjalanannya ke Jawa, singgah di Gujarat dan Pasai. Mula-mula ia menyebarkan agama Islam di Demak, selanjutnya meluasnya ke wilayah Jawa Barat (Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon). Sunan Gunung Jati berjasa dalam mendirikan kerajaan Islam, Banten dan Cirebon.
e. Sunan Drajat (Raden Syarifuddin atau Masih Munat)
Ia mempelajari agama Islam dari para wali pendahulunya. Sunan Drajat mendirikan pesantren di Dusun Drajat, Paciran, Lamongan. Untuk memasyarakatnya ajaran agama Islam, ia mengubah syair-syair pangkur (tembang Jawa). Selain itu, ia juga mempergunakan gamelan Jawa sehingga lebih menarik bagi penduduk pribumi. Sisi lain daya tarik pribadinya adalah perhatiannya kepada orang miskin, yatim piatu, dan orang-orang terlantar.
f. Sunan Giri (Raden Paku atau Sultan Abdul Faqih)
Belajar agama Islam pertama kali di Ampel, kemudian melanjutkan ke Pasai bersama Sunan Bonang. Ia mendirikan pesantren “Prabu Giri Satmata” di Sidomukti, Gresik. Dalam menyebarkan agama, ia menciptakan lagu-lagu dolanan yang bernapaskan Islam, seperti Jamuran, Ilir-Ilir, dan Cublak-Cublak Suweng.
g. Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid atau Raden Setya)
Semasa muda ia berguru pada Sunan Bonang, sehingga dalam berdakwah ia menggunakan gaya Sunan Bonang, yakni mempergunakan wayang dan gamelan. Jawa untuk menarik massa dan menanamkan ajaran-ajarannya di hati masyarakat Jawa. Ia mendirikan pesantren di Kadilangu, Demak dan mendapatkan banyak murid. Murid-muridnya yang terkenal, yaitu: Ki Ageng Pandanaran, Sunan Goseng, Empu Supa, dan Syekh Domba.
h. Sunan Kudus (Ja’far Shidiq)
Pernah belajar agama Islam di Arab. Seusai belajar agama, ia mendirikan pesantren di Kudus. Ia seorang pujangga Islam yang menguasai berbagai ilmu keagamaan, terutama tauhid, hadis, dan fiqih. Ia juga berhasil meluruskan ajaran Islam yang diselewengkan oleh beberapa tokoh seperti Syekh Siti Jenar, Kebo Kenanga, dan Ki Ageng Pengging.
i. Sunan Muria
Bersama Sunan Kudus, ia pernah berguru kepada Ki Ageng Ngerang. Seusai mempelajari agama Islam, ia mendirikan padepokan di kaki Gunung Muria, tempat menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada para muridnya yang terdiri atas rakyat jelata dan orang-orang sederhana pedesaan di sekitar Jepara. Ia juga mempergunakan gamelan Jawa untuk menarik massa, dan menciptakan syair-syair tembang kinanthi dan sinom yang memuat ajaran agama agar lebih mudah diterima dan diresapkan oleh orang-orang sederhana.

Ulama Lain
Selain ada Wali Songo yang tugasnya menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, masih ada ulama setempat, di antaranya sebagai berikut.

    Dato’ri Bandang (Abdul Makmur Khatib Tunggal) berasal dari Minangkabau.
    Dato’ri Patimang (Khatib Sulaiman): mengislamkan Kerajaan Luwu (Palopo).
    Dato’ri Tito (Khatib Bungsu): mengislamkan wilayah Bulu Kumba.
    Tua Tanggang Parang dan Raja Aji Langgar, mengislamkan Kutai (Kalimantan Timur).
    Syekh Abdul Muhyi: menyiarkan agama Islam di Pamijahan, Tasikmalaya.
    Ki Gede Ing Suro: berasal dari Surabaya, mengislamkan Palembang.
    Syekh Yusuf (Yusuf Tajul Khaiwati): dari Makasar menjadi mufti di Kerajaan Banten pada masa Sultan Ageng Tirtayasa.
    Syekh Burhanuddin: dari Ulakan (Minangkabau), merupakan pelopor Islam di Sumatera Barat.
    Kiai Dukuh (Pangeran Kasunyatan): guru agamanya Maulana Yusuf (Sulatan
    Banten).
    Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang) ahli tasawuf yang mati dihukum bakar.
    Sunan Geseng (Ngabehi Ckrajaya): mengislamkan Bagelan (Kedu).
    Sunan Tembayat (Ki Ageng Pandanaran): mengislamkan Klaten.
    Syekh Domba: mengislamkan Salatiga.
    Sunan Panggung: mengislamkan Tegal.
    Ki Ageng Juru Martani: mengislamkan Gunung Kidul.
    Ki Ageng Pamanahan: mengislamkan Yogyakarta.
    Ki Ageng Gribig: mengislamkan Jatinom.
    Sayid Usman: mengislamkan Jakarta.
    Syekh Abdul Samad: mengislamkan Palembang.
    Syekh Nawawi: mengislamkan Banten.
    Syekh Arsyad: mengislamkan Banjarmasin.
    Syekh Said dari Pasai: mengislamkan petani.



BAB III
PENUTUP

Simpulan
Sesungguhnya Allah SWT, menciptakan manusia untuk berpasang-pasangan, menjadikan umat bersuku-suku untuk adanya persatuan bangsa, dan perlu di ingat untuk menyebarkan perkembangan umat islam di indonesia perlu waktu berangsur-angsur lamanya dan adanya perlakuan sewenang-wenang antar manusia.


DAFTAR PUSTAKA

Sastra Dan Proses Kreatifnya

Sastra Dan Proses Kreatifnya

Di susun oleh:
Rali Padli
Eti Ernawati
Rusmiyati
Semester 2
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PERGURUAN TINGGI KEGURUAN
STKIP NAHDATUL ULAMA INDRAMAYU
(SK DIRJEND DIKTI NO.439/E/O/2012)
INDRAMAYU 2017

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh,
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, hingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Sastra dan proses kreatifnya”.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk membantu mahasiswa dalam mempelajari mata kuliah teori sastra
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini belum sempurna, baik dari segi isi, metode. Oleh sebab itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan dalam makalah ini.
Wssalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh



Indramayu,18 Februari 2017
                                                         
                                                                                 Penulis    

 BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang Penulisan
Karya sastra merupakan sebuah hasil kreatifitas seseorang terhadap ide, pikiran, dan perasaan yang dimiliki. Karya sastra merupakan hasilimajinasi manusia yang mengambil keadaan sekitar sebagai sumber inspirasinya. Menurut Ratna (2005:312), hakikat karya sastra adalah rekaan atau yang lebih sering disebut imajinasi. Imajinasi dalam karya sastra adalah imajinasi yang berdasarkan kenyataan. Imajinasi tersebut juga sering diimajinasikan oleh orang lain.
Meskipun pada hakikatnya karya sastra adalah rekaan, karya sastra digambarkan atas dasar kenyataan. Karya sastra pada umumnya berisi permasalahan yang berhubungandengan kehidupan manusia. Permasalahan itu bisa terjadi pada diri sendiri maupun orang lain. Seorang pengarang sering mengangkat fenomena yang terjadi di masyarakat dengan harapan agar pembaca dapat mengambil hikmah dari fenomena tersebut.

1.2       Rumusan Masalah Penulisan
1.2.1 apakan yang menjadi alasan dan dorongan seorang pengarang?
1.2.2 apakah kegiatan sebelum pengaarang menulis?
1.2.3 apakah kegiatan saat menulis?
1.2.4 apakah kegiatan setelah menulis?
1.2.5 apakah modal untuk menjadi pengarang?

1.3       Tujuan Penulisan
1.3.1 mengetahui lasan dan dorongan menjadi seorang mengarang
1.3.2 mengetahui kegiatan sebelum penulisan
1.3.3 mengetahui kegitan saat menulis
1.3.4 mengetahui kegiatan setelah menulis
1.3.5 mengetahui modal utama menjadi pengaranng
BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Alasan Dan Dorongan Menjadi Pengarang
Berikut 30 alasan yang umumnya dikemukakan:
1        Mengekspresikan diri.
2        Uang.
3        Mengembangkan bakat.
4        Membantu pembaca untuk berkembang.
5        Menyebarkan ilmu, pengetahuan, atau kebijaksanaan.
6        Memperoleh kepuasan.
7        Menggerakkan orang lain.
8        Mengkomunikasikan ide-ide, dorongan emosional, pengalaman, obsesi dan kepedulian kepada orang lain.
9        Agar terhubungkan dengan orang lain.
10     Untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik.
11    Menguji ide-ide.
12    Mengeksplorasi tema atau subyek tertentu.
13     Menguji diri sendiri.
14    Bersenang-senang.
15    Memberikan kepuasan dan hiburan bagi orang lain.
16    Katarsis bagi gejolak perasaan.
17    Agar tetap waras.
18    Untuk membujuk orang lain agar sepakat dengan pemikiran Anda.
19    Membangun reputasi, otoritas atau keahlian dalam bidang tertentu.
20    Membangun karir atau reputasi sebagai penulis.
21     Pengisi waktu yang menyenangkan.
22     Menciptakan karya seni yang bagus dan mengagumkan.
23     Menciptakan cerita yang selalu ingin Anda baca.
24     Agar meninggalkan jejak di dunia.
25     Untuk mempengaruhi pikiran orang lain berkenaan dengan isu atau topik tertentu.
26     Agar dikagumi, mendapatkan pengakuan dan rasa hormat.
27     Untuk melarikan diri dari kehidupan sehari-hari dan membantu orang lain melakukan hal yang sama.
28     Mengungkapkan kebenaran.
29     Untuk menciptakan sesuatu yang memiliki arti dan dipersembahkan untuk orang-orang terdekat.
30     Untuk membuktikan kepada diri sendiri dan orang lain bahwa Anda memiliki kemampuan untuk menjadi penulis.

Menurut Koentjaraningrat (1986: 109-110) ada tujuh macam dorongan naluri. Ketujuh dorongan itu adalah:(1) untuk mempertahankan hidup, (2) seksual, (3) untuk mencari makan, (4) untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia, (5) untuk meniru tingkah laku sesamanya, (6) untuk berbakti, dan (7) nilai keindahan.

2.2       Kegiatan Sebelum Menulis
1.      Menentukan atau memilih tema atau topik karangan. 
Langkah paling awal dalam membuat suatu karangan adalah menentukan tema atau topik karangan. Tema diartikan pokok pikiran, sedangkan topik adalah pokok pembicaraan. Apabila dilihat dari sudut sebuah karangan yang telah selesai tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam kenyataannya untuk menulis suautu karangan, penulis harus memilih suatu topik atau pokok pembicaraan. Dengan demikian, pada waktu menyusun sebuah tema untuk untuk sebuah karangan ada dua unsur yang paling dasar yaitu topik atau pokok pembicaraan dan tujuan yang hendak dicapai melalui topik tersebut. 
Bagi pengarang pemula, penentuan topik tulisan merupakan sesuatu yang agak sulit dilakukan. Dalam menetapkan topik penulis harus menguasai betul kira-kira permasalahan apa yang akan ditulis. Jadi, agar topik benar-benar terwujud pilihlah topik yang benar-benar menarik perhatian. 
Hal ini sesuai dengan pendapat Gorys Keraf (1994: 111) bahwa; 
“Sebuah topik pertama-tama haruslah menarik perhatian penulis sendir. Topik yang menarik perhatian penulis akan memungkinkan pengarang berusaha terus menerus mencari data-data untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, penulis akan didorong terus-menerus agar dapat menyelesaikan tulisan itu dengan sebaik-baiknya.” 
2.      Menetapkan tujuan 
Setiap kegiatan yang dilakukan tentu memiliki tujuan. Demikian halnya dengan mengarang atau menulis. Menetapkan tujuan tulisan adalah penting sebelum menulis. Karena tujuan sangat berpengaruh dalam menetapkan bentuk, panjang, sifat dan cara penyajian tulisan. Tujuan tulisan harus jelas suatu tulisan yang tidak dilandasi dengan tujuan yang jelas dan mungkin hanya mewujudkan tulisan yang buruk atau tidak dapat dipahami oleh pembaca. Jadi penetapan tujuan itu sangat membantu penulis dalam mengembangkan tulisannya dan dapat memberikan arah kepada penulis. Dengan menetapkan tujuan yang jelas akan membantu penulis memperoleh gambaran tentang persoalan yang akan ditulisnya dan membangkitkan semangat penulis untuk merangkaikan kata-kata yang lebih jelas dan terarah. 
3.      Mengumpulkan informasi atau bahan 
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, perlu mencari bahan berupa keterangan-keterangan yang berhubungan dengan topik tersebut. Kegiatan mengumpulkan bahan dapat dilakukan dengan cara observasi atau mengadakan pengamatan terhadap satu proses atau keinginan sesuatu yang diperlukan dan akan dijadikan sumber penulisan. 

4.      Membuat kerangka tulisan 
Kerangka tulisan adalah garis besar cerita yang akan dituangkan pada sebuah tulisan. Sebelum menulis, seorang penulis perlu menetapkan kerangka tulisan. Kerangka tulisan merupakan pedoman atau acuan penulis tentang hal-hal apa saja yang akan ditulis, sehingga dengan menggunakan kerangka tulisan alur cerita yang akan ditulis semakin jelas dan terarah. Jarang seseorang dalam menuangkan isi pikirannya sekaligus secara teratur terperinci dan sempurna tanpa sebuah kerangka tulisan. Hal ini sesuai dengan pendapat Gorys Keraf (1994:132) bahwa; “ Kerangka karangan adalah rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap.”
5.      Mengembangkan kerangka karangan 
Setelah kerangka karangan disusun, maka tahap selanjutnya adalah mengembangkannya menjadi sebuah tulisan yang utuh. Pengembangan kerangka karangan dilakukan satu persatu. Dalam penulisan atau pengembangan kerangka karangan ada beberapa unsur yang harus diperhatikan dan unsur-unsur tersebut merupakan penilaian baik tidaknya hasil karangan yang dibuat. Unsur-unsur tersebut adalah isi gagasan yang dikemukakan, organisasi isi (urutan peristiwa), tata bahasa, pilihan struktur dan kosakata serta penggunaan ejaan yang tepat. 
Di dalam penuangan isi gagasan yang dikemukakan pada sebuah tulisan, penulisan sangat dituntut untuk memiliki wawasan luas tentang apa yang ditulisnya sehingga isi tulisan benar-benar hidup. Namun demikian dalam penceritaannya, penulis harus mampu mengorganisasi isi sedemikian rupa sehingga isi cerita tidak tumpang tindih atau tidak dibicarakan berulang-ulang. Agar isi karangan mudah dipahami pembaca, gunakanlah tata bahasa yang baik, struktur kata dan kosakata yang mudah dipahami pembaca. Hal yang lebih penting lagi adalah penggunaan kalimat yang efektif. Kalimat efektif berarti kalimat tersebut sederhana namun memiliki makna yang luas. Lebih baik menggunakan kalimat yang pendek dan mudah dipahami daripada kalimat yang panjang tetapi membingungkan pembaca. Agar isi tulisan mudah dipahami pembaca, penggunaan ejaan juga harus perlu diperhatikan. Gunakan tanda baca pada tempatnya, sebab penggunaan ejaan secara serampangan akan berdampak negatif terhadap isi karangan. Bahkan penggunaan ejaan secara tidak tepat akan menyulitkan pembaca untuk memahami isi tulisan. Untuk menyusun kerangka karangan, diperlukan bahan-bahan yang dapat digali dari pengalaman, imajinasi buku-buku, majalah, Koran, wawancara, dan lain-lain. Setelah bahan terkumpul, pokok pikiran tersebut kita susun dengan baik dan tidak boleh sembarangan. Mana cerita yang harus diletakkan pada bagian awal dan mana pula yang harus diletakkan pada bagian akhir.
       
2.2.1      Penentuan Pikiran Utama
Salah satu ciri utama tulisan yang baik adalah kesatuan gagasan antarparagrafnya. Sebuah tulisan (karangan) akan menjadi jelas jika mempunyai kesatuan, yaitu semua detail yang berupa contoh, alasan ataupun fakta yang digunakan harus tidak menyimpang dari pikiran utama. Menurut Mukhsin Ahmadi (1991 : 13) menyatakan bahwa:
Pikiran utama adalah pengenadali suatu karangan sehingga dengan pikiran utama dimaksudkan isi karangan tidak akan menyimpang. Karangan tersebut ditulis dalam bentuk paragraf dan tiap paragraf mempunyai pikiran utama. Pikiran utama yang paling baik diletakkan pada kalimat pertama pada paragraf.

2.2.2      Pembentukan Paragraf
“Paragraf merupakan suatu pikiran atau perasaan yang tersusun teratur berupa kalimat-kalimat berfungsi sebagai bagian dari suatu satuan yang lebih besar” (Mukhsin Ahmad, 1991 : 1). Agar sebuah karangan mudah ditangkap pembaca dengan jelas, maka perlulah disusun suatu paragraf. Paragraf biasa tersusun dari beberapa buah kalimat yang saling berhubungan sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh untuk menyampaikan suatu maksud.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa paragraf adalah satu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari pada kalimat. Paragraf merupakan kumpulan kalimat yang berkaitan dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Berkaitan dengan paragraf Akhadiah, (Agus Suryamiharja, 1996 : 46), menjelaskan bahwa “Dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat utama atau kalimat topik, kalimat penjelas sampai kalimat penutup”.
Fungsi dari paragraf dalam karangan adalah “1) Sebagai penampung dari sebagian kecil jalan pikiran atau ide keseluruhan karangan, 2) Memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok karangan. (Tarigan, 1996:48). Menurut Suriamuharja (1996 : 48) “Paragraf baik dan efektif harus memenuhi tiga parsyaratan, yaitu (1) Kohesi (Kesatuan ) ; (2) Koherensi (Kepaduan) ; dan (3) Pengembangan / Kelengkapan paragraf”

2.3       Kegiatan Pada Saat Menulis
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan menulis:
1.      Kohesi (Kesatuan)
Kohesi/kesatuan dalam paragraf adalah semua kalimat yang membina paragraf secara bersama-sama menyatakan satu hal, satu tema tertentu”.


2.      Koherensi (Kepaduan)
Koherensi / keterpaduan dalam paragraf adalah kekompakan hubungan antar sebuah kalimat denngan kalimat yang lain yang membentuk paragraf itu”.
3.      Pengembangan / Kelengkapan paragraf
Pengembangan paragraf adalah penyusunan atau perincian dari gagasan-gagasan yang membina paragraf itu”, Suatu paragraf dikatakan berkembang atau lengkap jika kalimat topik atau kalimat utama dikembangkan atau dijelaskan dengan cara menjabarkannya dalam bentuk-bentuk kongkrit, dapat dengan cara pemaparan dan pemberian contoh, penganalisaan dan nilai-nilai.
4.      Penulisan Kalimat
Kalimat dalam karangan harus jelas dan mudah dipahami, karena kalimat tertulis dalam beberapa hal tidak sama dengan kalimat tutur. Kalimat yang jelas dan terang dalam bahasa percakapan (tutur), tidak selamanya jelas dan terang jika dituliskan. Sebab intonasi dalam bahasa tutur sulit untuk diterjemahkan dalam bahasa tulis.
Setiap kalimat pada satu karangan pada dasarnya disusun oleh unsur-unsur yang membentuknya. Unsur-unsur kalimat itu tidak lain adalah kata-kata. Kata-kata itulah yang membentuk kalimat. Bagian-bagian kalimat sering disebut konstituen. Bagian-bagian kalimat tersebut antara lain sebagai berikut :
a.       Subjek
Subjek kalimat sangat menetukan kejelasan makna sebuah kalimat. “Jabatan atau fungsi subjek dalam kalimat biasanya dapat diketahui dengan jalan mengajukan pertanyaan apa, atau siapa yang dibicarakan dalam karangan” (Yohanes, 1991 : 6).
b.      Predikat
Predikat kalimat kebanyakan muncul secara eksplisit. Predikat juga sangat menentukan kejelasan makna sebuah kalimat. “Ciri-ciri predikat terletak dibelakang subjek serta berbentuk verba atau kata kerja” (Yohanes, 1991 : 6).
c.       Objek
Kehadiran objek dalam kalimat tergantung pada jenis predikat kalimat serta ciri khas objek itu sendiri. “Objek pada umumnya berbentuk nomina atau kata benda, atau di belakang kata tugas “oleh” dalam kalimat pasif” (Yohanes, 1991 : 7).
d.      Keterangan
Tempat jabatan keterangan dalam kalimat biasanya bebas dan cakupan semantik keterangan lebih kuat yaitu membatasi unsur kalimat atau seluruh kalimat. Bagian keterangan dalam kalimat Bahasa Indonesia menyatakan banyak makna, namun yang sering ditemukan dalam pemakaian bahasa sehari-hari adalah keterangan waktu, keterangan tempat, keterangan tujuan, keterangan instrumental. (Yohanes, 1991 : 7).
e.       Penggunaan Tanda Baca
Karangan selalu berupa bahasa yang tertulis. Dalam beberapa hal bahasa tertulis tidak sama dengan bahasa lisan, banyak alat-alat bahasa seperti lagu, jeda, tinggi rendah suara, sukar digambarkan dalam bahsa tulis. Untuk melengkapi kekurangan itu, maka dibuatlah tanda baca. Menurut Poerwardarminta (1967 : 14), “Tanda baca dapat membantu menjelaskan maksud atau makna kalimat”. Dengan tanda baca penulis dapat menyampaikan maksudnya dengan lebih jelas. Sedang pembaca pun dapat pula menangkap maksud kalimat dengan lebih mudah. Oleh karena itu, makna “tanda baca tidak boleh diabaikan dalam tulis-menulis. Macam-macam tanda baca antara lain sebagai beikut :
1)      Titik
Tanda titik dipakai sebagai tanda bahwa kalimat telah selesai. Pokok tugasnya adalah sebagai pengunci kalimat.
2)      Koma
Tanda koma paling sering dipakai dalam tulis menulis. Pokok tugasnya adalah untuk menyatakan jeda sejenak, menyekat hubungan-hubungan yang perlu dijelaskan. Pada umumnya koma dipakai untuk menyekat kata atau frase sejenis dan setara.
3)      Titik Dua
Titik dua digunakan untuk menegaskan keterangan atau penjelasan sebagai tambahan sesuatu yang telah tersebut dalam kalimat terdahulu. Titik dua juga dapat digunakan untuk menyatakan perincian berbagai hal, benda yang disebutkan berturut-turut, serta untuk menyatakan kutipan perkataan seseorang.
4)      Tanda Seru dan Tanda Tanya
Tanda seru pada pokoknya untuk mengintesifkan penuturan. Biasa dipakai untuk menyatakan perasaan yang kuat seperti perintah, melarang, heran, menarik perhatian, tak percaya, dan sebagainya. Sedangkan tanda tanya sudah tentu dipakai untuk menyatakan pertanyaan, baik pertanyaan yang sesungguhnya maupun yang bersifat menyangsikan.

2.4       Kegiatan Setelah Menulis
kegiatan yang dilakukan sastrawan setelah menulis karya sasra bisa berupa keiatan melakukan revisi, melakukan perenungaan, dan akan meulis karya yang baru lagi atau memutuskan berhenti menulis.
1.       Revisi
Revisi adalah kegiatan yang dilakukan sastrawan setelah menulis karya sastra, revisi di sini bisa dalam bentuk mengetik ulang tulisan yang berupa tulisan tangan, revisi juga bisa dalam bentuk mengubah tulisan yang sudah jadi.
2.      Renungan
Renungan adalah memerikas kembali karyanya melihat kembali bagaimana proses pnulisannya, melihat hubungan karyanya dengan karya sastra dan bacaan lain, serta melihat hubungan karyanya dengan pengalaman-pengalamannya.
3.      Akan menulis lagi ataukah berhenti menulis
Seorang sastrawan bisa mengambil keputusan: apakah ia akan menulis karya satra lagi ataukah ia berhenti menulis.

2.5       Modal Menjadi Sastrawan
apakah yang menjadi modal kita ingin menulis? Secara umum, syafi’ie (1988: 70-90) mengemukakan kemampuan-kemampuan yang harus di miliki oleh seorang penulis. Kemampuan yang harus dimiliki seorang penulis adalah bakat (meskipun tidak mutlak), bekerja keras, keberanian, keyakinan tentang apa yang ditulis adalah benar dan perlu, dapat memandang sesuatu secara proporsional, dapat berfikir logis, bertanggung jawab,terhadap apa yang dikemukakan, dapat mengkritik diri sendiri, peka terhadap apa yang terjadi dalam masyarakat. Selain itu, seorang penulis juga memerlukan kemampuan menemukan masalah yang akan ditulis, kepekaan terhadap kondisi oembaca, menyusun perencanaan penulisan, menggunakan bahasa Indoneia, memulai menulis, dan memeriksa naskah karangan sendiri.



BAB III
PENUTUP
3.1       Simpulan
3.1.1 Menurut Koentjaraningrat (1986: 109-110) ada tujuh macam dorongan naluri. Ketujuh dorongan itu adalah:(1) untuk mempertahankan hidup, (2) seksual, (3) untuk mencari makan, (4) untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia, (5) untuk meniru tingkah laku sesamanya, (6) untuk berbakti, dan (7) nilai keindahan.
3.1.2        kegiatan sebelum menulis
1)      Menentukan atau memilih tema atau topik karangan.
2)      Menetapkan tujuan
3)      Mengumpulkan informasi atau bahan 
4)      Membuat kerangka tulisan
5)      Mengembangkan kerangka karangan 
3.1.3        hal yang harus diperhatikan saat menulis
1)      kohesi
2)      koherensi
3)      pengembangan
4)      penulisan kaliamat
3.1.4        kegiatan setelah menulis
1)      revisi
2)      renungan
3)      akan memutusan menulis lagi ataukah berhenti menulis
3.1.5        modal menjadi sastrawan
Kemampuan yang harus dimiliki seorang penulis adalah bakat (meskipun tidak mutlak), bekerja keras, keberanian, keyakinan tentang apa yang ditulis adalah benar dan perlu, dapat memandang sesuatu secara proporsional, dapat berfikir logis, bertanggung jawab,terhadap apa yang dikemukakan, dapat mengkritik diri sendiri, peka terhadap apa yang terjadi dalam masyarakat. Selain itu, seorang penulis juga memerlukan kemampuan menemukan masalah yang akan ditulis. 

sumber :

Naskah Drama "Balada Saridin"

Pemain : 1.       Saridin 2.       Aisyah 3.       Sari (teman Aisyah) 4.       Siti (teman Aisyah) 5.       Ayah Aisyah 6.  ...