Tuesday, December 20, 2016

MAKALAH FONEMIK

Disusun oleh KELOMPOK 1 :
Fikriyatul Ilmiyati
Dewi Dwiyanti
Depi Widayanti
Osalasin






KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah Swt karena berkat rahmat, karunia serta taufik dan hidayah-Nya, penyusun dapat menyelesaikan makalah Fonologi. Makalah ini dibuat dalamrangka memenuhi tugas mata kuliah Fonologidengan judulFonemik”.
Penyusunan makalah ini, penyusun mendapat masukan dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga makalah ini bisa selesai. Pada kesempatan ini penyusun mengucapkanterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penyusun  menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi lebih baik laginya makalah ini.
Akhir kata, penyusun berharap agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya.


                                                                        Indramayu, 11 Oktober 2016

Penyusun 

BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang Penulisan
Fonemik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa dengan memperhatikan apakah bunyi tesebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sebagai mana diketahui bahwa fonemik sacara fungsional dipertentangkan dengan fonetik, karena fonemik mengkhususkan perhatianya pada makna yang ditimbulkan oleh sebuah bunyi bahasa ketika dituturkan sedangkan fonetik hanya memfokuskan bagaimana bunyi bahasa dapat dituturkan secara benar baik dari segi cara maupun dari segi tempat artikulasinya.
Dibidang fonemik kita akan mempelajari tentang perbedaan makna yang ditimbulkan oleh perbedaan cara penuturan dalam suatu bunyi bahasa. Hal ini sangat penting karena dalam pembelajaran bahasa khususnya bahasa Indonesia kita akan dihadapkan pada berbagai masalah bunyi-bunyi bahasa yang secara sepintas sama akan tetapi sangat berbeda dari segi makna yang ditimbulkannya.

1.2     Rumusan Masalah Penulisan
1.      Apa pengertian fonem dan alofon ?
2.      Apa saja fonem bahasa indonesia ?
3.      Bagaimana Fonem fonem bahasa indonesia harus direalisasikan ?
4.      Apa yang dimaksud dengan gugus fonem dan deret fonem ?
5.      Apa yang dimaksud dengan distribusi fonem bahasa indonesia ?
6.       Penyebab apa saja yang mempengaruhi  perubahan bunyi atau fonem ?



1.3 Tujuan Penulisan
1.      Menjelaskan pengertian fonem dan alofon.
2.      Mengetahui apa saja fonem bahasa indonesia.
3.      Mengetahui cara merealisasikan fonem-fonem bahasa indonesia.
4.      Mengetahui pengertian dari gugus fonem dan deret fonem.
5.      Mengetahui arti dari distribusi fonem bahasa indonesia.
6.      Mengetahui penyebab perubahan bunyi.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1.1 FONEM
              Kajian fonetik adalah bunyi bahasa atau fon, sedangkan objek kajian fonemik adalah fonem. Memang banyak versi mengenai definisi atau konsep fonem. namun, intinya adalah suatu kesatuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna kata. Kalau kita ingin mengetahui sebuah bunyi adalah fonem atau bukan, kita harus mencari yang disebut pasangan minimal atau minimal pair, yaitu dua buah bentuk yang bunyinya mirip dan hanya sedikit berbeda. Misalnya, pasangan kata paku dan baku. Kedua kata ini mirip sekali, masing-masing terdiri dari empat buah bunyi. Kata paku terdiri dari [p], [a], [k], dan [u]. Sedangkan kata baku terdiri dari bunyi [b], [a], [k], [u]. Jadi, pada pasangan paku dan baku terdapat tiga buah bunyi yang sama, yaitu bunyi kedua, ketiga, dan keempat. Yang berbeda hanya bunyi yang pertama, yaitu bunyi [p], [a], [k], [u].
2.1.2 ALOFON
Alofon adalah pembedaan realisasi pelafazanfonem karena posisi yang berbeda dalam kata. Misalkan fonem /b/ dalam bahasa Indonesia dilafalkan pada posisi awal ("besar") dan tengah ("kabel") berbeda dengan fonem ini pada posisi akhir ("jawab").
 Kalau kita melihat kembali pembicaraan mengenai vokal maka kita melihat bahwa bunyi vokal depan tinggi ada dua, yaitu: vokal depan tinggi atas [i] dan vokal depan tinggi bawah [I]. begitu juga vokal belakang tinggi ada dua, yaitu: vokal belakang tinggi atas [u]dan vokal belakang tinggi bawah [U]. demikianjuga vokal belakang sedang ada dua, yaitu vokal belakang sedang atas [o] dan vokal belakang sedang bawah [כ].
Persoalan kita sekarang apakah bunyi vokal [i] dan vokal [I] dua buah fonem  atau sebuah fonem. Atau kita menggunakan cara dengan mencari pasangan minimal untuk kedua bunyi vokal itu dalam bahasa Indonesisa ternyata sampai saat ini tidak ada. Yang menjadi kenyataan adalah bahwa kedua vokal itu, [i] dan [I] memiliki distribusi yang berbeda.Vokal [i] menempati posisi pada silabels (suku kata) terbuka, silabel yang tidak memiliki koda, sedangkan vokal [I] menempati silabel yang mempunyai koda. Simak:
Vokal [i] pada kata   [ini];    [titi]; dan   [isi]
Vokal [I] pada kata   [b∂nIh];   [batik]; dan   [tasIk]
Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa:
a.       Vokal [i] dan [I] bukanlah merupakan dua fonem, melainkan cuma anggota darisebuah fonem yang sama yaitu fonem /i/
b.       Vokal [i] dan vokal [I] distribusinya tidak sama: vokal [i] berdistribusi pada silabel terbuka atau silabel tidak berkoda; sedangkan vokal [I] berdistribusi pada silabel tertutup atau silabel berkoda.
c.       Vokal [i] dan vokal [I] memiliki distribusi komplementer, berdistribusi yang saling melengkapi.
Analog dengan kasus vokal [i] dan vokal [I], maka dapat dikatakan vokal [u] dan vokal [U] juga merupakan anggota dari satu fonem yang sama, yaitu fonem /u/, yang juga berdistribusi secara komplementer. Vokal [u] untuk silabel terbuka (tak berkoda), dan vokal [U] untuk silabel tertutup (berkoda). Seperti yang tertera dibawah ini, yaitu sebagai berikut:
Vokal [u] pada kata   [buku]; [ibu]; dan [itu]
Vokal [U] pada kata [akUr]; [libUr]; dan [atUr]
Hal yang sama terjadi juga pada kasus vokal [o] dan vokal [כ]. Dimana vokal [o] untuk silabel terbuka, seperti pada kata [took] dan [bodo], sedangkan vokal [כ] untuk silabel tertutup seperti [tכkכh] dan [bכdכh].
            Vokal-vokal yang menjadi anggota dari sebuah fonem, seperti [u] dan [U] untuk fonem /u/ disebut dengan istilah alofon.Dengan demikian kalau dibalik, bisa dikatakan alofon adalah anggota dari sebuah fonem atau varian dari sebuah fonem.
            Dari pembicaraan tentang fonem dan alofon diatas, dapat dikatakan bahwa fonem merupakan konsep abstrak karena kehadirannya dalam ujaran dia diwakili oleh alofon yang sifatnya konkrit, dapat diamati (didengar) secara empiris. Jadi, misalnya fonem /i/ pada kata diwakili oleh alofon [i], karena lafal kata itu adalah [tani], sedangkan pada kata diwakili oleh alofon [I], karena lafalnya adalah [tarIk]. Contoh fonem /k/ pada kata diwakili oleh alofon [k] karena lafalnya adalah [baku], sedangkan pada kata diwakili oleh alofon [?] karena lafalnya [bapa?]
           Perkataan lain, fonem /i/ direalisasikan oleh alofon [i] dan alofon [I], fonem /u/ direalisasikan oleh alofon [u] dan alofon [U], sedangakan fonem /o/ direalisasikan oleh alofon [o] dan alofon [כ].

2.2 FONEM BAHASA INDONESIA
a.       Fonem Vokal
Nama-nama fonem vokal yang ada dalam bahasa Indonesia yaitu sebagai berikut:
1.      /i/ vokal depan, tinggi, tak bundar
2.      /e/ vokal depan, sedang, atas, tak bundar
3.      /a/ vokal depan, rendah, tak bundar
4.      /∂/ vokal tengah, sedang tak bundar
5.      /u/ vokal belakang, atas, bundar
6.      /o/ vokal belakang, sedang, bundar

Status fonem-fonem vokal itu dapat dibuktikan dengan pasangan minimal berikut ini:
Fonem
Posisi dalam kata
Awal
Tengah
Akhir
/i/
/e/
/a/
/∂/
/u/
/o/
ikan x akan
enak x anak
alam x ulam
∂raŋ x araŋ
udaŋ x adaŋ
onak x anak
makin x makan
raket x rakit
alih x alah
k∂ra x kira
kasur x kasar
kaloŋ x kalaŋ
dari x dara
sate x satu
para x pari
-
labu x laba
toko x tokoh

b.      Fonem Diftong
Fonem diftong yang ada dalam bahasa Indonesia adalah fonem diftong /ay/, diftong /aw/ dan diftong /oy/. Ketiganya dapat dibuktikan dengan pasangan minimal.
/ay/ gulai x gula (gulay x gula)
/aw/ pulau x pula (pulaw x pul )
/oi/ sekoi x seka (skoy x seka)
c.       Fonem Konsonan
            Nama-nama fonem konsonan bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      /b/ konsonan bilabial, hambat, bersuara.
2.      /p/ konsonan bilabial, hambat, tak bersuara.
3.      /m/ konsonan bilabial, nasal.
4.      /w/ konsonan bilabial, semi vocal.
5.      /f/ konsonan labiodentals, geseran, tak bersuara.
6.      /d/ konsonan apikoalveolar, hambat, bersuara.
7.      /t/ konsonan apikoaveolar, hambat, tak bersuara.
8.      /n/ konsonan apikoaveolar, nasal.
9.      /t/ konsonan apikoaveolar, sampingan.
10.  /r/ konsonan apikoaveolar, getar.
11.  /z/ konsonan laminoalveolar, geseran, bersuara.
12.  /s/ konsonan laminoalveolar, geseran, tak bersuara.
13.  /∫/ konsonan laminopalatal, geseran, bersuara.
14.  /ñ/ konsonan laminopalatal, nasal.
15.  /j/ konsonan laminopalatal, paduan, bersuara.
16.  /c/ konsonan laminopalatal, paduan, tak bersuara.
17.  /y/ konsonan laminopalatal, semivokal.
18.   /g/ konsonan dorsevelar, hambat, bersuara.
19.  /k/ konsonan dorsevelar, hambat, tak bersuara.
20.  /ŋ/ konsonan dorsevelar, nasal.
21.  /x/ konsonan dorsevelar, geseran, bersuara.
22.  /h/ konsonan laringal, geseran, bersuara.
23.  /?/ konsonan glottal, hambat.

2.3 REALISASI FONEM BAHASA INDONESIA
Realisasi fonem vokal
1.      Fonem /i/
Mempunyai dua macam realisasi, yaitu pertama direalisasikan sebagai bunyi [i] apabila berada pada silabel terbuka atau silabel tak berkoda seperti pada kata <kini> dan <sapi>. Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [I] apabila berada pada silabel tertutup atau silabel berkoda seperti pada kata <batik> dan <irik>.
2.      Fonem /e/
Mempunyai dua macam realisasi. Pertama, direlisasikan sebagai bunyi [e] apabila berada pada silabel terbuka, seperti pada kata <sate> dan <berabe>. Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [ɛ] apabila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata <monyet> dan <ember>.
3.      Fonem /a/
Secara umum fonem /a/ direalisasikan sebagai bunyi [a], baik pada posisi awal kata, tengah kata, maupun akhir kata seperti pada kata <apa>, <padam>, dan <dua>.
4.      Fonem /ә/
Secara umum direalisasikan sebagai bunyi [∂] seperti pada kata <kera> dan <Maret>.
5.      Fonem /u/
Mempunyai dua macam realisasi. Pertama, dilafalkan sebagai bunyi [u] apabila berada pada silabel terbuka seperti pada kata <susu> dan <tunggu>. Kedua direalisasikan sebagai bunyi [U] apabila berada pada silabel tertutup seperti pada kata <kasur> dan <tangguh>.
6.      Fonem /o/
Mempunyai dua macam realisasi. Pertama direalisasikan sebagai bunyi [o] apabila berada pada silabel terbuka, seperti pada kata <toko> dan <oto>. Kedua direalisasikan sebagai bunyi [] apabila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata <tokoh> dan <besok>.
Lafal fonem konsonan
1.      Fonem /b/
Memiliki dua realisasi. Pertama direalisasikan sebagai bunyi [b] apabila berada pada awal silabel, baik silabel terbuka maupun silabel tertutup yang bukan ditutup oleh fonem konsonan /b/. Misalnya pada kata <bagus> dan <bantal>. Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [b] atau [p] apabila berposisi sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya pada kata <sebab> dan <Sabtu>.
2.      Fonem /p/
Direalisasikan sebagai bunyi [p] baik sebagai onset pada sebuah silabel maupun sebagai koda. Misalnya <papan> dan <sampul>.
3.      Fonem /n/
Direalisasikan sebagai bunyi [n] seperti pada kata <nanas> dan <iman>.
4.      Fonem /w/
Direalisasikan sebagai bunyi [w], seperti pada kata <waris> dan <bawal>.
5.      Fonem /f/
Direalisasikan sebagai bunyi [f] seperti pada kata <kafe> dan <aktif>.
6.      Fonem /d/
Mempunyai dua macam realisasi. Pertama direalisasikan sebagai bunyi [d] apabila berposisi sebagai sebuah onset pada sebuah silabel. Misalnya pada kata <daging> dan <hadis>. Kedua direalisasikan sebagai bunyi [t] dan [d] bila berposisi sebagai sebuah koda pada sebuah silabel. Seperti <abad> dilafalkan [babat] dan <jilid> dilafalkan [jilit].
7.      Fonem /t/
Direalisasikan sebagai bunyi [t], seperti pada kata <titi> dan <rebut>.
8.      Fonem /n/
Direalisasikan sebagai bunyi [n], baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya <nama> dan <asin>.
9.      Fonem /l/
Direalisasikan sebagai bunyi [  ] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel, misalnya <lari. Dan <batal>.
10.  Fonem /r/
Direalisasikan sebagai bunyi [r] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel, misalnya <ribut>, <karet>, dan <kabar>.
11.  Fonem /z/
Direalisasikan sebagai bunyi [z] bila sebagai onset pada sebuah silabel. Misalnya <zaman> dan <zamzam>. Bila sebagai koda dilafalkan sebagai bunyi [z] atau [s] misalnya pada kata <Aziz> dilafalkan [Aziz] atau [Azis].
12.  Fonem /s/
Direalisasikan sebagai bunyi [s] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.Misalnya pada <sakit>, <pesan>, dan <kamus>.
13.  Fonem /ʃ/
Direalisasikan sebagai bunyi [ʃ] baik sebagai onsaet maupun sebagai koda.Misalnya <syarat> dan <syahbandar>.
14.  Fonem /ñ/
Fonem nasal ini direalisasikan sebagai bunyi [ñ] misalnya pada kata <nyani> dan <banyak>.


15.  Fonem /j/
Direalisasikan sebagai bunyi [j] seperti pada kata <jalan> dan <ajal>.Fonem /j/ tidak pernah berposisi sebagai koda.
16.  Fonem /c/
Direalisasikan sebagai bunyi [c] seperti pada kata <cari> dan <cacar>.Fonem ini tidak pernah berposisi sebagai koda.
17. Fonem /y/
Direalisasikan sebagai bunyi [y] seperti pada kata <yatim> dan <yayasan>.Fonem ini tidak pernah berposisi sebagai koda.

18. Fonem /g/
Mempunyai dua macam realisasi.Pertama direalisasikan sebagai bunyi [g] apabila berposisi sebagai onset.Misalnya pada kata <gajah> dan <gagal>.Kedua direalisasikan sebagai bunyi [g] atau [k] apabila berposisi sebagai koda.Misalnya <gudeg> menjadi [gudek] dan <grobag> menjadi [grobak].
19. Fonem /k/
Memiliki tiga macam realisasi.Pertama direalisasikan sebagai bunyi [k] apabila berposisi sebagai onset, misalnya pada kata <kabar> dan <bakar>. Kedua direalisasikan sebagai bunyi [?] apabila berposisi sebagai koda, misalnya <bapak> [bapa?] dan <rakyat> [ra?yat].
20. Fonem /ᶇ/
Direalisasikan sebagai bunyi [ᶇ] baik berposisi sebagai onset maupun sebagai koda.Misalnya <nganga> [ᶇaᶇa] dan <angina> [aᶇin].
21.Fonem /x/
Direalisasikan sebagai bunyi [x] baik berposisi sebagai koda maupun sebagai onset.Misalnya <khas> [xas], <akhir> [axir], dan <tarikh> [tarix].
22. Fonem /h/
Direalisasikan sebagai bunyi [h] baik berposisi sebagai onset maupun sebagai koda.Misalnya <hari>, <sehat> dan <lebih>.
23. Fonem /?/
Direalisasikan sebagai bunyi [?] yang muncul pada: pertama, silabel pertama dari sebuah kata yang berupa fonem vocal. Misalnya <akan> [?akan], <isap> [?isap], dan <udang> [?udang]. kedua di antara dua buah silabel, di mana nuklus silabel pertama dan kedua berupa fonem vokal yang sama. Misalnya <taat> [ta?at] dan <dan> [a?an].
Diposkan oleh Muizz Hilmi di 20.33


 2.5 DISTRIBUSI FONEM BAHASA INDONESIA

Distribusi fonem adalah letak atau beradanya sebuah fonem di dalam satu satuan ujaran, yang kita sebut kata atau morfem. Secara umum fonem dapat berada pada posisi awal kata, di tengah kata, maupun di akhir kata. Secara khusus satu per satu, ada fonem yang dapat berada pada ketiga posisi itu, tetapi ada pula yang tidak dapat. Hanya berada pada posisi awal saja, atau posisi akhir saja. Fonem vokal selalu dapat menduduki posisi pada semua tempat, berkenaan dengan posisinya sebagai puncak kenyaringan pada setiap silabel. Sedangkan fonem konsonan mungkin dapat menduduki awal dan akhir, tetapi mungkin juga hanya menduduki posisi pada awal. Berikut distribusi fonem satu per satu.
Fonem Vokal
1.      Vokal /a/, dapat menduduki semua posisi. Contoh: ambil, taat, dan harga.
2.      Vokal /i/, dapat menduduki semua posisi. Contoh: indah, amin, dan tani.
3.      Vokal /e/, dapat menduduki semua posisi. Contoh: enak, karet, dan sate.
4.      Vokal /∂/, dapat menduduki posisi awal, posisi tengah, dan posisi akhir.
Contoh: [Mas], [lmbut], [kod].
5.      Vokal /u/, dapat menduduki semua posisi. Contoh: udan, sambut, lagu.
6.      Vokal /o/, dapat menduduki semua posisi. Contoh: oleh, belok, dan bakso.
Fonem Diftong
1.    Diftong /aw/ dapat menduduki posisi awal dan posisi akhir, Seperti pada kata  aula [awla] dan pulau [pulaw].
2.    Diftong /ay/ hanya menduduki posisi akhir, seperti pada kata [pantay] dan [landay].
3.    Diftong /oy/ hanya menduduki posisi akhir, seperti  pada kata [skoy] dan [ amboy].
4.    Diftong /∂y/ juga hanya menduduki posisi akhir, seperti pada contoh: [survy].
Fonem Konsonan
1.    Konsonan /b/  dapat menduduki posisi awal, posisi tengah, dan posisi akhir. Seperti tampak  pada kata bambu, timbul, dan sebab. Namun, pada posisi akhir sebagai koda posisinya mendua, maksudnya dapat sebagai fonem /b/ , dan dapat pula sebagai fonem /p/. Di sini, fonem /b/ itu kehilangan kontasnya dengan fonem /p/. Fonem yang seperti ini lazim disebut dengan nama arkifonem. Keduanya /b/ dn /p/ dianggap sebagai anggota dari arkifonem/B/ (ket: arkifonem dilambangkan dengan huruff kapital).
2.    Konsonan /p/ dapat menduduki semua posisi awal, tengah, dan akhir, seperti tampak pada contoh: pikat, lipat, dan tutup.
3.    Konsonan /m/ dapat menduduki semua posisi. Seperti tampak pada contoh: makan, aman, dan dalam.
4.    Konsonan semivokal /w/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti tampak pada contoh: waris, dan awam.
                   Pada posisi akhir semivokal /w/ merupakan bagian dari diftong /aw/, yang secara ortografi dilambangkan dengan huruf <u> . Misalnya [pulaw] – <pulau>, dan [danaw] - <danau>. Sebagai luncuran atau bunyi pelancar, bunyi [w] dalam ortografi tidak diberi lambang apa-apa. Contoh: [duwa] - <dua>; dan [kuwe] - <kue>.
5.    Konsonan /f/  dapat menduduki semua posisi, seperti tampak pada contoh: fitnah, sifat, dan aktif. Perlu dijelaskan dalam bahasa indonesia, konsonan labiodental tak bersuara /f/ dan konsonan labiodental bersuara /v/ tidak memiliki pasangan minimal. Maka konsonan /f/ dan konsonan /v/ dalam bahasa indonesia hanya diperbedakan secara ortografis. Kata-kata yang dalam bahasa asingnya dilambangkan dengan <f> akan ditulis dengan huruf <f> dan yang dilambangkan dengan huruf /v/ akan ditulis dengan huruf /v/. Jadi, fakultas ditulis dengan <f> sedangkan vitamin ditulis dengan huruf <v>.
6.    Konsonan /d/ dapat menduduki semua posisi. Contoh: dari, adat, dan abad.Namun, pada posisi akhir fonem /d/ lazim dilafalkan sebagai bunyi [t]. Jadi, fonem /d/ di sini adalah anggota dari arkifonem /D/.
7.    Konsonan /t/ dapat menduduki semua posisi. Contoh: tari, hati, dan karet.
8.    Konsonan /n/ dapat menduduki semua posisi. Contoh: nasi, tanah, dan tuan.
9.    Konsonan  /l/ dapat menduduki semua posisi. Contoh: lari, balai dan bakal.
10.     Konsonan /r/  dapat menduduki semua posisi. Contoh: raja, urat, dan lebar.
11.     Konsonan /z/ dapat menduduki semua posisi. Contoh: zakat, lazim dan aziz. Namun, pada posisi akhir fonem /z/ ini kehilangan statusnya sebagai fonem /z/; dia menjadi anggota dari arkifonem /Z/, karena lazim diucapkan sebagai /s/.
12.     Konsonan / ñ / dapat menduduki posisi awal, dan posisi tengah, seperti tampak pada contoh: [ñali] dan [bañak], tetapi tidak dapat menduduki posisi akhir.
13.     Konsonan /j/ dapat menduduki posisi awal, dan posisi tengah, seperti tampak pada contoh: jalan, dan ajal, tetapi tidak dapat menduduki posisi akhir.
14.     Konsonan  /c/  dapat menduduki posisi awal, dan posisi tengah, seperti tampak pada contoh: copet dan kecil, tetapi tidak dapat menduduki posisi akhir.
15.     Konsonan // dapat menduduki semua posisi. Contoh: [arat] dieja  < syarat >, [iarat] dieja < isyarat >, dan [ara] dieja < arasy >.
16.     Konsonan /s/ dapat menduduki semua posisi. Contoh: salut, pasar, dan baris.
17.     Konsonan /g/ dapat menduduki posisi awal, dan posisi tengah seperti contoh: gadis dan agar. Juga dapat menduduki posisi akhir pada sejumlah kata; tetapi secara ortografis selalu dilambangkan dengan huruf < k >. Contoh: < gubuk > dilafalkan [gubug], < grobak > dilafalkan [grobag], dan < gudek > dilafalkan [gudeg].
18.     Konsonan /k/ dapat menduduki semua posisi. Contoh: kata, akan, dan anak.
19.     Konsonan /?/ dapat menduduki posisi tengah, dan posisi akhir, secara otografis kehadirannya dilambangkan dengan huruf < k >, contoh: nikmat [ni?mat] dan bapak [bapa?]. secara fonetis fonem ini selalu muncul di muka silabel yang tidak punya onset, seperti ikan [i?kan] dan [ta?at].
20.     Konsonan / ŋ / dapat menduduki semua posisi. contoh: ŋaŋa, aŋan, dan benaŋ.
21.     Konsonan /x/ dapat menduduki semua posisi.
Contoh: [xitan] dieja <  khitan >, [axir] dieja <  akhir  >, dan  [tarix] dieja
< tarikh >.
22.    Konsonan /h/ dapat menduduki semua posisi. Contoh: hamil, mahir dan sudah. Pada beberapa kata yang bukan unsusr serapan fonem [h] ini pada posisi awal sering ditanggalkan seperti hidup=idup; hisap=isap; dan hembus=embus.

Gugus Konsonan
1.             Gugus konsonan /br/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata brahmana dan labrak.
2.             Gugus konsonan  /bl/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata blangko dan amblas.
3.             Gugus konsonan  /by/ hanya  menduduki posisi tengah, seperti pada kata obyek dan subyek.
4.             Gugus konsonan  /dr/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata drama dan sudra.
5.             Gugus konsonan  /dw/ dapat menduduki posisi awal saja seperti pada kata dwidarma.
6.             Gugus konsonan  /dy/ hanya  menduduki posisi posisi tengah, seperti pada kata madya.
7.             Gugus konsonan  /fl/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata flabel dan inflasi.
8.             Gugus konsonan  /fr/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata frater dan infra.
9.             Gugus konsonan  /gl/ hanya menduduki posisi awal seperti pada kata global dan glukosa.
10.          Gugus konsonan  /gr/ hanya menduduki posisi awal seperti pada kata grafis dan gram.
11.          Gugus konsonan  /kl/ hanya menduduki posisi awal seperti pada kata klasik dan klinik.
12.          Gugus konsonan /kr/ hanya menduduki posisi awal seperti pada kata kritik dan kroket.
13.          Gugus konsonan /ks/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, dan posisi akhir seperti pada kata ksatria, eskponen, dan konteks.
14.          Gugus konsonan /kw/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata kwintal dan takwim.
15.          Gugus konsonan /pr/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata pribadi dan keprok.
16.          Gugus konsonan /ps/ hanya dapat menduduki posisi awal seperti pada kata psikologi dan psikiater.
17.          Gugus konsonan /sl/ hanya dapat menduduki posisi awal seperti pada kata slogan dan slebor.
18.          Gugus konsonan /sp/ hanya dapat menduduki posisi awal saja seperti pada kata spontan dan spirit.
19.          Gugus konsonan /sr/ hanya dapat menduduki posisi awal saja seperti pada  kata srigala.
20.          Gugus konsonan /st/ hanya dapat menduduki posisi awal seperti pada kata tudio dan stasiun.
21.          Gugus konsonan /sk/ hanya dapat menduduki posisi awal seperti pada kata skala.
22.          Gugus konsonan /skr/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata skripsi dan manuskrip.
23.          Gugus konsonan /tr/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada contoh: tragedi dan sutra.
Simpulan
1.             Semua fonem vokal dapat berdistribusi pada semua posisi (awal, tengah, akhir) kecuali vokal /∂/  yang hanya berposisi pada awal dan tengah; tetapi tidak daoat pada posisi akhir.
2.             Fonem diftong atau gugus vokal pada umunya hanya menduduki posisi akhir, kecuali diftong /aw/ yang dapat menduduki posisi awal dan akhir.
3.             Semua fonem konsonan dapat menduduki posisi awal, tengah, akhir; kecuali fonem /w/, /n/, /j/, /c/, dan /g/ yang tidak dapat menduduki posisi akhir; dan fonem letup/?/ yang tidak dapat menduduki posisi awal.
4.             Mengenai gugus konsonan:
a.              Semua gugus konsonan dapat menduduki posisi awal, kecuali gugus /by/ yang tidak dapat.
b.             Posisi tengah dapat diduduki oleh gugus /bl/, /br/, /by/, /dr/, /dy/, /fl/, /fr/, /gl/, /ks/, /kw/, /pr/, /skr/, dan /tr/ yang lainnya tidak dapat.
c.              Satu-satunya gugus yang dapat menduduki posisi akhir adalah /ks.


BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa fonemik secara fungsional dipertentangkan dengan fonetik, karena fonemik mengkhususkan perhatiannya pada makna yang ditimbulkan oleh sebuah bunyi bahasa ketika dituturkan. Sedangkan fonetik hanya memfokuskan bagaimana bunyi bahasa dapat dituturkan secara benar baik dari segi cara maupun dari segi tempat artikulasinya.

3.2 Saran
            Adapun saran yang dapat penulis sampaikan yaitu, kita sebagai calon pendidik, harus selalu menggali potensi yang ada pada diri kita. Cara menggali potensi dapat dilakukan dengan cara belajar.


DAFTAR PUSTAKA

Chaer,abdul.2013.Fonologi bahasa indonesia, Jakarta,Rineka Cipta.

No comments:

Post a Comment

Naskah Drama "Balada Saridin"

Pemain : 1.       Saridin 2.       Aisyah 3.       Sari (teman Aisyah) 4.       Siti (teman Aisyah) 5.       Ayah Aisyah 6.  ...