Wednesday, February 20, 2019

Puisi Untukmu, Pemilik tanggal Satu

Untukmu, Pemilik Tanggal Satu
Karya : Rudy

Teruntuk kamu...
Masih banyak yang ingin kutanyakan kepadamu
Perihal kita, perihal aku dan kamu
Rasa rindu yang tak berbalas
Penantian yang tak pasti
Harapan yang tak terbendung 

Perjuangan, doa, harapan, dan impian seakan lenyap dalam sekejap
Semua yang sudah kubangun bertahun-tahun, runtuh tak terasa
Sulitnya kubangun semua itu, mudahnya kau buat runtuh semuanya
Berkali-kali kucoba bangun kembali
Berkali-kali ku jatuh dan sakit kembali
Berkali-kali bangkit, tapi selalu saja sakit

Aku...
Yang kini sudah tak berarti lagi buatmu
Sejak dulu sampai sekarang kau selalu begitu
Acuh kepadaku

Aku dan waktuku..
Ribuan detik sudah kuhabiskan untuk memikirkan semua tentangmu
Ribuan jam sudah kuhabiskan untuk memperhatikanmu
Tapi, bagaimana denganmu?
Pernahkah sedikit saja kau mengingatku?
Memperhatikanku? Peduli terhadapku ?

Perasaanku...
Betapa sakitnya harapan tak menjadi kenyataan
Betapa sakitnya luka ini tanpa kau beri penawarnya
Betapa perihnya rasa yang diacuhkan

Hari ini...tanggal kesukaanku...tanggal satu
Berharap tak ada lagi yang kuingat darimu
Tentang kita
Tentang waktu kita
Tentang kebiasaan kita berburu senja
Tentang pantai yang menjadi tempat pelarian kita
Memandang ombak, menangkap angin, melukis pasir

Hari ini...tanggal satu
Terima kasih untuk rasa yang diacuhkan
Terima kasih untuk aku yang sudah tergantikan
Terima kasih untuk namaku yang sudah tak lagi di sana
Terima kasih untukmu, tanggal satuku


Pantai Dadap
1 Desember 2018

Puisi Perempuan Tua

Perempuan Tua
Karya : Rudiyanto

Perempuan tua, di sudut jalan itu
Perempuan tua, duduk termangu
Perempuan tua, berpakaian lusuh
Tak ada yang tau, tentang perempuan tua itu
Tak ada yang peduli, dengan perempuan tua itu

Perempuan tua...
Makan dan minum dari mana tak tau
Anak, cucu, keluarga, di mana tak tau
Di tanya namanya, tak tau
Di tanya alamatnya tak tau
Siapa yang peduli, tak tau

Perempuan tua...
Pikun sudah pikirannya
Peot pipinya, memutih rambutnya
Kulit menyatu dengan tulangnya
Entah sudah berapa hari perut tak diisinya

Perempuan tua...
Masih bertahan di sudut jalan depan gang sempit
Berharap ada yang peduli sedikit
Berharap ada yang memberinya duit
Karena dia lupa seperti apa bentuk duit

Perempuan tua..
Ke mana engkau akan pulang, Nek?
Sudah berapa lama hidup menggelandang, Nek?
Apakah anakmu, cucumu, atau saudaramu tak peduli denganmu, Nek?
Apakah mereka tak merawatmu seperti mereka merawatmu saat kecil dulu, Nek?
Apakah namamu sudah tercoret dari daftar keluarga mereka, Nek?

Perempuan tua....
Tua-tua tak tau
Tau-tau tak tua
Tak tau siapa yang tua
Tuapun tak harus tau
Siapa tau kita tak sampai tua?

Juntikedokan, 20 Februari 2019

Saturday, December 8, 2018

Puisi, Rindu Sepertiga Malamku

Rindu Sepertiga Malamku
Karya Rudy

Dari lubuk hati yang paling dalam
Ingin kuceritakan masa laluku yang kelam
Dari sebuah waktu malam
Jadilah teman sendiriku di sepertiga malam
Tahukah kau betapa rindu ini kutahan?
Tahukah kau betapa hati ini masih bertahan?
Betapa cinta ini masih tersimpan tanpa dendam

Aku rindu
Rindu melihat deru ombak bersamamu
Rindu mencari senyum senjamu
Rindu menatap senja yang indah
Rindu menunggu senja yang menghilang dalam malam
Aku Rindu kamu

Di sepertiga malam ini
Aku bersujud meminta agar dikuatkan dalam penantian
Agar dimudahkan dalam bertahan
Agar kamu selalu dilindungi dengan doa di kejauhan

Di sepertiga malamku
Ku sebut namamu dalam doaku
Berharap agar kamu mendengar apa yang ingin kukatakan kepadamu

Perihal masalah perasaan
Rasa yang selalu tumbuh dalam heran
Dirimu yang kini sudah meninggalkan
Masih saja tersimpan rapih dalam harapan
Dirimu yang kini tak lagi mengenalku
Masih saja tersimpan rapih dalam pikirku
Dirimu yang kini bahagia dengan yang lain
Masih saja tak ingin terganti dengan wanita lain

Tahukah kau?
Apa yang kurasa masih sama dengan yang dulu kita rasa
Meski kini kau tak lagi merasa
Meski kini kau telah bahagia dengan dia
Lihatlah aku, akupun ikut bahagia
Meski bahagiaku berderai air mata luka

Juntikedokan 8 Desember 2018



Puisi Duka Kami di Papua

Duka Kami, Papua
Karya Rudy

Dorr!!! Dorr!! Dorr!!!
Kami para pekerja tak menduga
Suara ledakan itu nyata adanya
Suara kembang apikah?
Atau suara petasan yg dimainkan oleh anak-anak Papua
Kami rasa, Tahun baru masih beberapa minggu lagi datangnya

Dorr!! Dorr!! Dorr!!! Dorr!!!
Suara itu semakin mendekat
Bukan lagi dari suara kembang api
Bukan juga dari suara petasan
Ternyata, itu suara dari tembakan

Tak lama, mayat-mayat rekan kami berserakkan
Tanpa tau penyebab dan kesalahan
Jalanan yang kami bangun kini bersimbah darah

Hai kalian para penembak
Apa salah kami?
Kami merantau jauh tinggalkan keluarga
Tinggalkan orang tua, istri dan anak di rumah
Kami bekerja untuk membangun Papua
Kami mencari nafkah untuk sebuah berkah

Kami berangkat dengan bahagia
Kami pulang hanya tinggal nama
Kami merantau dengan baju sederhana
Kini pulang dengan baju yang berdarah
Kami berangkat dengan sejuta impian di Papua
Kami pulang dengan tangisan dari keluarga
Kami berangkat mencari sesuap nasi
Kami pulang di dalam peti berhias kain putih

Hai kalian para penembak....
Apa salah kami?
Apa dosa kami?
Kami tak mengenal kalian siapa??
Kami tak mengenal kalian dari mana??
Tapi, mengapa kalian bunuh kami dengan keji??
Mengapa kalian akhiri perjuangan kami membangun tanah Papua?
Mengapa???

Tidak sukakah kalian jika Papua dibangun?

Salam dari kami pejuang transpapua
Jadikanlah darah kami sebagai saksi bisu
Saksi dari kekejaman kelompok bersenjata

Hai kalian kelompok bersenjata...
Ayo tembak kami, habisi kami, bantai kami, bunuh kami!!
Kalian pengecut!!

Kami tidak takut... hai kalian.!!!
Jangan bangga dengan membantai kami
Jangan pikir rakyat akan takut dengan kematian kami
Raga kami boleh kau hadiahi peluru
Tapi jiwa kami akan selalu dijadikan rindu
Jiwa kami akan membuat Indonesia bersatu untuk melawanmu

Papua, 8 Desember 2018



Friday, November 30, 2018

Puisi Hujan, Aku Jatuh Cinta

Hujan, Aku Jatuh Cinta
_Rudy

Hujan, terima kasih kau telah hadir untuk pertama kalinya dalam waktu yg lama
Bertepatan pula dengan hadirnya dia
Yang seolah-olah akan membuat hidupku berbeda
Sepertinya aku jatuh cinta lagi
Pada dia seorang gadis anggun yg memiliki senyum manis
Tatkala hati ini sedih karna masa lalu, dia datang membawa sejuta bahagia
Meskipun aku sadar, dia tak menyadari itu
Tapi dalam hatiku, aku sudah terlanjur membuka hati untuk mencintainya

Hujan, yakinkan aku bahwa aku bisa membuatnya bahagia
Seperti engkau meyakinkan pada bumi, pohon, dan taman kalau engkau akan membasahinya malam ini
Yakinkan aku kalau aku bisa bahagia dengannya, bahkan sangat bahagia
Seperti engkau yakin dan tetap turun ke bumi meski banyak orang yg tak suka denganmu
Ketahuilah engkau wahai hujan
Untuk saat ini, kau hadir bukan sebagai pembawa kenangan masa lalu
Tetapi pembawa harapan di masa depanku
Dan semoga harapan itu nyata adanya
Hujan, jadilah saksi pertamaku
Ketahuilah, aku jatuh cinta padanya

Juntikedokan, 30 November 2018

Tuesday, November 27, 2018

Puisi Negeri Demokrasi

Negeri Demokrasi
Karya : Rudy

Negeriku negeri demokrasi
Sana-sini ribut soal demokrasi
Dari seluruh pelosok negeri ini
Dari timur sampai barat negeri ini
Dari selatan sampai utara negeri ini
Semua berbicara tentang demokrasi
Demokrasi, demokrasi, dan demokrasi

Negeriku negeri demokrasi
Dengan demokrasi orang bisa menghargai
Dengan demokrasi pula orang bisa saling melukai
Tidak sedikit perpecahan di negeri akibat demokrasi
Loh, katanya negeri demokrasi??
Tapi yang kalah tak mau terima hasil demokrasi
Demokrasi tak berarti, tibalah saatnya demonstrasi

Demokrasi, demokrasi, dan demokrasi
Sesama saudara ribut akibat gagalnya demokrasi
Sesama keluarga ribut akibat perbedaan hak pilih atas dasar demokrasi
Bahkan, sesama agama saling mengkafirkan atas nama demokrasi di negeri ini

Pesta demokrasi menghiasi negeri ini
Bunga-bunga bendera partai bermekaran
Saling berlomba ukuran dan keindahan
Wajah-wajah calon pemimpin dipasang berjejeran 
Menghiasi sudut jalanan, pertokoan, bahkan pepohonan
Semua berusaha menarik simpatisan

Negeriku negeri demokrasi
Sana-sini obral janji
Pestanya pejabat pesta demokrasi
Demokrasi menjadi lahan untuk berorasi
Pilihlah saya, coblos saya
Itulah negeri demokrasi
Disuruh memilih sesuka hati
Disuruh mencoblos sesuai nurani
Tapi mengapa suara harus dibeli? 

Negeriku, negeri demokrasi
Indahnya demokrasi tanpa saling membenci
Indahnya demokrasi tanpa korupsi
Indahnya demokrasi tanpa emosi
Indahnya demokrasi tanpa merusak negeri
Indahnya berdemokrasi tanpa demonstrasi
Mari berdemokrasi dengan beradu argumentasi dan visi-misi
Tanpa menggunakan emosi 

_Juntikedokan, 27 November 2018

Puisi Gadisku

Gadisku
Karya: Rudy

Pagi itu, hariku terasa berbeda
Pertama kali kumelihatmu dengan senyum manismu
Lesung pipimu yg tipis manis
Keanggunan busana batikmu yg membuatmu semakin mempesona
Aku seperti melihat cinderela dalam dunia nyata
Sedihku seakan hilang ketika kamu datang
Kegelisahan atas masa laluku seakan sirna dengan kehadiran dirimu
Aku mulai mencoba jatuh cinta lagi dari rasa yg telah mati

Di sebuah acara itu, ku terus mencarimu
Seakan ku tak ingin melewatkan senyum manismu meski hanya sedetik saja
Bola matamu yg indah di balik kacamata itu
Menambah kecantikanmu duhai gadisku

Sungguh, ini bukan perasaan yg biasa
Ingin ku berkenalan denganmu
Tapi, ku tak berani dan tak mampu
Tubuhku seakan layu ketika berada dekat denganmu
Aliran darah dalam tubuhku seakan terhenti karna terpesona terhadapmu
Gadisku, siapakah dirimu?

Di sebuah taman itu, kita duduk bersama
Hingga akhirnya aku beranikan diri untuk menyapamu
Mengajakmu berkenalan, dan pada akhirnya aku tau namamu
Untuk pertama kalinya aku berjabat tangan denganmu
Gadisku, tanganmu nan lembut
Membuatku tak ingin melepaskan genggaman ini darimu
Mendengar suaramu nan merdu
Membuatku lupa akan kebisingan dunia ini
Hanya suaramu yg ingin kudengar selalu

Di taman itu, kita seakan sudah dekat
Mengenal meski hanya sekilas
Kita bercanda, tertawa, dan bercerita
Merangkai sebuah peristiwa yg tak ingin kulupa
Gadisku, menetaplah di sini
Temani kesendirianku selama ini
Rubahlah duniaku dengan kehadiranmu
Tak ingin kau pergi menjauh

Waktu kian beranjak
Senja sedikit mengintip kebersamaan kita
Mungkin saja senja cemburu kepada kita
Hingga dia buru-buru untuk mengusir kebahagiaan kita
Gadisku, janganlah engkau pulang terlalu cepat
Tetaplah di sini, aku tak ingin lagi sendiri
Aku menginginkanmu menetap
Jangan pedulikan senja yg cemburu itu
Temani aku di sini
Mari kita habiskan sore di sini

Gadisku, mungkin hanya anganku semata
Aku tak bisa memaksamu untuk setia
Mungkin memang sudah seharusnya kita berpisah
Meski sesungguhnya ku tak menginginkannya
Tapi, aku sadar kalau kita tak ada apa-apa
Hanya sebatas tamu dan tuan rumah
Yang belum bisa hidup bersama
Menjalin sebuah bahagia lebih lama
Selamat tinggal gadisku, selamat jalan
Semoga suatu saat kita masih bisa berjumpa

_Kaplongan, 25 November 2018

Naskah Drama "Balada Saridin"

Pemain : 1.       Saridin 2.       Aisyah 3.       Sari (teman Aisyah) 4.       Siti (teman Aisyah) 5.       Ayah Aisyah 6.  ...