Wednesday, November 16, 2016

MAKALAH MATA KULIAH FONOLOGI “Kajian Grafemik”

ini contoh makalah dari kelompok 2
1. Rudiyanto
2. Sintiyah
3. Siti Fatonah
4. Takesi Anjarsari
5. Wasiri


KATA PENGANTAR
Puji syukur  kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT  yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehinga kami mendapatkan petunjuk, kekuatan, dan kesabaran agar kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul “Kajian Grafemik”.
Adapun makalah ini merupakan syarat untuk menambah pengetahuan tentang mata kuliah “Kajian Grafemik  dan melengkapi tugas dalam proses pembelajaran mata kuliah “Kajian Grafemik”. Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari  kesempurnaan. Oleh karna itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dan mendidik untuk perbaikan selanjutnya.
 Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembacanya. Terima kasih.
Indramayu,   Oktober  2016

          Penulis










Daftar Isi
Halaman
Cover                                                                                                                         
Kata Pengantar................................................................................................... i   
Daftar isi .............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
1.1              Latar Belakang Penulisan.............................................................. 1
1.2              Rumusan Masalah ........................................................................ 1
1.3              Tujuan Penulisan........................................................................... 2
1.4              Manfaat Penulisan......................................................................... 2
1.5              Metode Penulisan.......................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 4
            2.1       Pengertian Grafem ........................................................................4
            2.2       Grafem Fonem Bahasa Indonesia..................................................4
            2.3       Lambang Unsur  Suprasegmental..................................................6
            2.4       Fonem ...........................................................................................7
            2.5       Fonem-fonem Resmi Bahasa Indonesia........................................9
            2.6       Realisasi Fonem Bahasa Indonesia...............................................12
            2.7       Alofon...........................................................................................16
            2.8       Fonem, Alofon, dan Ejaan............................................................18

BAB III SIMPULAN .........................................................................................20
Daftar Pustaka 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang Penulisan
                Fonologi adalah suatu kajian bahasa yang berusaha mengkaji bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bunyi ujaran yang dimaksud adalah pembentukan fonem-fonem yang disatukan menjadi sebuah kata. Oleh fonologi, bunyi-bunyi ujaran ini dapat dipelajari dengan dua sudut pandang. Pertama, bunyi-bunyi ujaran dipandang sebagai media bahasa semata, tidak ubahnya seperti benda atau zat. Dengan demikian, bunyi-bunyi dianggap sebagai bahan mentah. Fonologi yang memandang bunyi-bunyi ujaran demikian disebut fonetik. Kedua, bunyi-bunyi ujaran dipandang sebagai bagian dari sistem bahasa. Bunyi-bunyi ujaran adalah unsur bahasa terkecil yang merupakan bagian dari struktur kata yang sekaligus berfungsi untuk membedakan makna. Fonologi yang memandang bunyi-bunyi ujaran sebagai bagian dari sistem bahasa disebut fonemik (Muslich, 2008: 2).
            Di dalam materi fonologi terdapat beberapa sub-sub materi yang mengkaji tentang tata ilmu kebahasaan, salah satunya adalah grafemik . Grafemik merupakan salah satu ilmu yang di dalamnya mempelajari  bunyi-bunyi bahasa yang telah disepakati.  Artinya, grafemik mempelajari  bunyi-bunyi  bahasa sesuai dengan sistem dan aturan ejaan yang berlaku. Dalam hal bahasa Indonesia tentu menutrut aturan yang disepakati dalam pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.

1.2       Rumusan Masalah
              Berdasarkan uraian diatas, maka masalah yang akan kita bahas yaitu:
1.      Apa saja yang terdapat di dalam kajian grafemik ?
2.      Apa yang dimaksud  dengan grafem ?
3.      Apa yang dimaksud dengan fonem ?
4.      Apa saja grafem-grafem untuk  fonem-fonem  bahasa Indonesia ?
5.      Apa saja pembagian-pembagian dari fonem ?
6.      Bagaimana realisasi fonem di dalam bahasa Indonesia ?
7.      Apa yang dimaksud dengan alofon ?
8.      Bagaimana penerapan kaidah dari kajian grafemik di dalam kaidah kebahasaan khususnya bahasa Indonesia ?


1.3         Tujuan Penulisan
      Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini yaitu :
1.      Dapat mengetahui kajian grafemik di dalam kaidah kebahasaan
2.      Dapat mengetahui arti dari grafem, fonem, alofon, dan ejaan
3.      Dapat mengetahui pembagian-pembagian fonem
4.      Dapat menerapkan kajian grafemik di dalam komunikasi dengan siapapun
5.      Dapat menerapkan kajian grafemik sesuai dengan kaidahnya


1.4           Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang ingin kami capai dalam penulisan makah ini yaitu :
1.      Sebagai bahan referensi untuk pembelajaran bagi mahasiswa dan masyarakat
2.      Untuk mengetahui sejauh mana pentingnya ilmu fonologi di dalam kehidupan bermasyarakat
3.      Memberikan pengetahuan tentang fonologi 
4.      Memberikan pengetahuan tentang bagian dari fonologi
5.      Memberikan rasa semangat kepada masyarakat, khususnya mahasiswa agar lebih bijak dalam berbahasa
6.      Sebagai sarana berkomunikasi


1.5             Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, kami sebagai penulis menggunakan metode kajian pustaka dari berbagai sumber di internet dan dari informasi buku cetak yang sudah kami sediakan.  Dari data-data atau informasi-informasi yang kami dapatkan lalu kami  kumpulkan menjadi satu, setelah itu kami mengoreksi dan menggabungkannya menjadi sebuah makalah. 

















BAB II
PEMBAHASAN
2.1       Pengertian Grafem
Grafem (bahasa Yunani: γράφω, gráphō, "menulis") adalah satuan unit terkecil sebagai pembeda dalam sebuah sistem aksara. Contoh grafem antara lain adalah huruf alfabet,aksara Tionghoa, angka, tanda baca, serta simbol dari sistem penulisan lain. Satu grafem dapat dipetakan tepat pada satu fonem, meskipun cukup banyak sistem ejaan yang memetakan beberapa grafem untuk satu fonem (misalnya grafem <n> dan <g> untuk fonem /ŋ/) atau sebaliknya, satu grafem untuk beberapa fonem (misalnya grafem <e> untuk fonem /e/ dan /ə/).
Grafem adalah system pelambangan bunyi alih-alih disebut system ejaan,pada dasarnya grafem adalah huruf. Grafem ada dua macam,yaitu grafem yang mengikuti system fonetis dan grafem yang mengikuti system fonemis.Grafem yang mengikuti system fonetis lebih popular disebut ejaan fonetis ini melambangkan bunyi-bunyi yang diucapkan penutur dalam bentuk huruf. Oleh karena itu,jumlah bunyi yang dilambangkan relative lebih banyak dari jumlah huruf yang terdapat dalam alphabet.Sementara itu,grafem yang mengikuti system fonemis lebih popular disebut ejaan fonemis ini melambangkan fonem-fonem bahasa tertentu dalam bentuk huruf.Jadi,pelambangan disesuaikan dengan bunyi-bunyi yang membedakan makna.

2.2       Grafem Fonem Bahasa Indonesia

            Menurut pedoman EYD grafem-grafem untuk fonem-fonem bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :

2.2.1    Grafem fonem vokal
Fonem
Alofon
Grafem
Contoh
Awal
Tengah
Akhir
/i/
[i]
[I]
<i>
i.tu
a.pik
a.pi
/e/
[e]
[ɛ]
<e>
e.kor
mo.nyet
sa.te
/∂/
[∂]
<e>
e.mas
ke.ra
ka.de
/u/
[u]
[U]
<u>
u.ji
da.pur
la.gu
/o/
[o]
[]
<o>
o.bat
e.kor
bak.so
/a/
[a]
<a>
a.pi
pi.sah
lu.pa

2.2.2    Grafem fonem diftong
Fonem
Grafem
Contoh
Awal
Tengah
Akhir
/aw/
<au>
au.la
_
pu.lau
/ay/
<ai>
_
_
lan.dai
/oy/
<oi>
_
_
se.koi
/ey/
<ei>
_
_
sur.vei



2.2.3    Grafem fonem konsonan
Fonem
Alofon
Grafem

Contoh




Awal
Tengah
Akhir
/b/
[b]
[p]
<b>
ba.ku
re.but
ja.wab
/p/
[p]
<p>
pa.ku
ba.pak
si.kap
/m/
[m]
<m>
mu.ka
a.man
da.lam
/w/
[w]
<w>
<u>
wa.ris
_
a.wan
_
_
li.mau
/f/
[f]
<f>
<v>
fa.sih
vi.ta.min
si.fat
av.tur
ak.tif
_
/d/
[d]
[t]
<d>
da.ta
a.dat
a.bad
/t/
[t]
<t>
ta.ri
ba.tik
de.kat
/n/
[n]
<n>
na.si
ta.nam
ja.lan
/l/
[l]
<l>
la.ri
ma.lam
ba.tal
/r/
[r]
<r>
ra.sa
ke.ras
be.nar
/z/
[z]
<z>
za.kat
ra.zia
a.ziz
/s/
[s]
<s>
sa.kit
a.sap
ba.las
/ʃ/
[ʃ]
<sy>
sya.hid
a.syar
a.rasy
/ñ/
[ñ]
<ny>
nya.la
ba.nyak
_
/j/
[j]
<j>
ja.la
a.jal
_
/c/
[c]
<c>
ca.ri
a.car
_
/y/
[y]
<y>
<i>
ya.tim
_
a.yun
_
_
la.lai
/g/
[g]
<g>
gi.la
la.gu
_

[k]
<k>
_
_
gu.dek
/k/
[k]
<k>
ki.ra
a.kal
ja.rak
/ᶇ/
[ᶇ]
<ng>
nga.nga
a.ngin
a.bang
/x/
[x]
<kh>
khas
a.khir
ta.rikh
/h/
[h]
<h>
ha.bis
ba.hu
su.dah
/?/
[?]
<k>
<Ø>
_
_
nik.mat
sa.at
ba.pak
_


2.3 Lambang unsur suprasegmental
Unsur suprasegmental yang berupa tekanan, nada, durasi, dan jeda karena tidak bersifat fonemis tidak diberi lambang apa-apa; tetapi unsur intonasi yang dapat mengubah makna kalimat diberi lambang berupa tanda baca, yaitu:
1)      Untuk kalimat deklaratif diberi tanda baca titik (.).
2)      Untuk kalimat interogatif diberi tanda baca tanda tanya (?).
3)      Kutuk kalimat imperatif diberi tanda baca tanda seru (!).
4)      Untuk kalimat interaktif diberi tanda baca tanda seru (!).
5)      Untuk menandai bagian-bagian kalimat digunakan tanda koma (,) dan tanda titik koma (;).

2.4       Fonem
Fonem adalah kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna.Perlu di ingat bahwa karena fonem merupakan penamaan system bunyi yang membedakan makna,maka jumlah fonem tentu lebih sedikit dari bunyi-bunyi yang ada.Bahkan,jumlah dan variasi bunyi bahasa Indonesia yang tak bias dipastikan jumlahnya itu, sebenarnya merupakan realisasi dari system fonem yang   terbatas jumlahnya.Berdasarkan hasil penelitian,fonem bahasa Indonesia berjumlah sekitar 6 fonem vocal dan 22 fonem konsonan.Dikatakan “sekitar” karena jumlahnya masih bias berubah.Hal ini sangat tergantung pada korpus data.
Fonem merupakan satuan bahasa terkecil yang bersifat abstrak dan mampu menunjukkan kontras makna atau abstraksi dari satu atau sejumlah fon, entah vokal maupun konsonan. Karena bersifat abstrak, fonem bukanlah satuan bahasa yang tidak nyata, bukan maujud yang dapat diindera. Dalam kata rokok, misalnya, terdapat empat fon, tetapi empat fon itu sebenarnya merupakan realisasi tiga fonem, yakni /r/, /o/, dan /k/. Dalam kata itu pula terdapat bunyi ( ) yang sebenarnya merupakan realisasi fonem /o/. Hanya karena lingkungan berdistribusinya, fonem /o/ itu direalisasikan menjadi ( ).
Memang banyak versi mengenai definisi atau konsep fonem. Namun, intinya adalah satu kesatuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna kata. Bagaimana kita tahu sebuah bunyi adalah fonem atau bukan fonem. Banyak cara dan prosedur telah dikemukakan oleh berbagai pakar. Namun, intinya adalah kalau kita ingin mengetahui sebuah bunyi adalah fonem atau bukan, kita harus mencari yang disebutpasangan minimal atau minimal pair, yaitu dua buah bentuk yang bunyinya mirip dan hanya sedikit berbeda. Umpamanya kita inginmengetahui bunyi [p] fonem atau bukan, maka kita cari, misalnya pasangan kata paku dan baku. Kedua kata ini mirip sekali. Masing-masing terdiri dari empat bunyi. Kata paku terdiri dari bunyi [p], [a], [k], dan [u]; sedangkan kata baku terdiri dari bunyi [b], [a], [k], dan [u]. jadi, pada pasangan paku dan baku terdapat tiga buah bunyi yang sama, yaitu bunyi kedua, ketiga dan keempat. Yang berbeda hanya bunyi pertama, yaitu bunyi [p] pada kata paku dan bunyi [b] pada kata baku.
Dengan demikian, kita sudah dapat membuktikan bahwa bunyi [p] dalam bahasa Indonesia adalah sebuah fonem. Mengapa? Karena kalau posisinya diganti oleh bunyi [b], maka maknanya akan berbeda. Sebagai sebuah fonem, bunyi [p] itu ditulis di antara dua garis miring menjadi /p/.
Apakah bunyi [b] pada pada pasangan kata paku dan baku itu juga sebuah fonem? Dengan sendirinya, bunyi [b] itu juga adalah sebuah fonem, karena kalau posisinya diganti oleh bunyi [p] atau bunyi [I] menjadi laku, maknanya juga akan berbeda.
Untuk membuktikan sebuah bunyi adalah 
fonem atau bukan dapat juga digunakan pasangan minimal yang salah satu angotanya “rumpang”. Artinya, jumlah bunyi pada anggota pasangan yang rumpang itu kekurangan satu bunyi dari anggota yang utuh. Misalnya, untuk membuktikan bunyi [h] adalah fonem atu bukan kita dapat mengambil pasangan [tuah] dan [tua]. Bentuk [tuah] memiliki empat buah bunyi, sedangkan bentuk [tua] hanya memiliki tiga  buah bunyi. Maka, kalau bunyi [h] itu ditanggalkan, makna kata itu akan berbeda. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bunyi [h] adalah sebuah fonem [h].
Susunan Fonem Jumlah Fonem Susunan Huruf Jumlah Huruf Kata yang terbentuk
/adik/ 4 adik 4 adik
/inat/ 4 ingat 5 ingat
/nani/ 4 nyanyi 6 nyanyi
/pantay/ 6 pantai 6 pantai

Bahasa Indonesia secara umum menggunakan system Grafem Latin. Grafem Latin memiliki 26 Alpabeta lepas. Jumlah Alpabeta latin yang dianut bahasa Indonesia dan fonem yang dimiliki bahasa Indonesia tidak sama. Bahasa Indonesai menganut system Grafem Latin dengan 26 Alpabeta, tetapi dari hasil penelitian ditumukan 32 buah fonem sebagai unit terkecil bunyi yang berfungsi membedakan arti.

32 Fonem resmi bahasa Indonesia :
• 6 buah fonem vokal : /a/, /i/, /u/, /e/,/o/, /?/.
• 3 buah fonem diftong : /oy/, /ay/, dan /ou/.
• 23 buah fonem konsonan : /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /c/, /j/, /n/, /k/, /g/, /n/, /y/, /r/, /l/, /w/, /s/, /s/, /t/, /f/, /h/, /x/, dan /?/.

Selanjutnya, fonem-fonem ini akan membentuk satuan, yaitu saku kata. Suku kata dapat diidentifikasi dengan jalan mengidentifikasi vokalnya karena fonem vokal merupakan puncak sonoritas (kenyaringan).

2.5        Fonem-fonem resmi bahasa Indonesia
a.       Fonem Vokal
Nama-nama fonem vokal yang ada dalam bahasa Indonesia yaitu sebagai berikut:
1.      /i/ vokal depan, tinggi, tak bundar
2.      /e/ vokal depan, sedang, atas, tak bundar
3.      /a/ vokal depan, rendah, tak bundar
4.      /∂/ vokal tengah, sedang tak bundar
5.      /u/ vokal belakang, atas, bundar
6.      /o/ vokal belakang, sedang, bundar
Status fonem-fonem vokal itu dapat dibuktikan dengan pasangan minimal berikut ini:
Fonem
Posisi dalam kata
Awal
Tengah
Akhir
/i/
/e/
/a/
/∂/
/u/
/o/
ikan x akan
enak x anak
alam x ulam
∂raŋ x araŋ
udaŋ x adaŋ
onak x anak
makin x makan
raket x rakit
alih x alah
k∂ra x kira
kasur x kasar
kaloŋ x kalaŋ
dari x dara
sate x satu
para x pari
-
labu x laba
toko x tokoh

b.      Fonem Diftong
Fonem diftong yang ada dalam bahasa Indonesia adalah fonem diftong /ay/, diftong /aw/ dan diftong /oy/. Ketiganya dapat dibuktikan dengan pasangan minimal.
            /ay/ gulai x gula (gulay x gula)
            /aw/ pulau x pula (pulaw x pul )
            /oi/ sekoi x seka (skoy x seka)

c.       Fonem Konsonan
Nama-nama fonem konsonan bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      /b/ konsonan bilabial, hambat, bersuara
2.      /p/ konsonan bilabial, hambat, tak bersuara
3.      /m/ konsonan bilabial, nasal
4.      /w/ konsonan bilabial, semi vokal
5.      /f/ konsonan labiodentals, geseran, tak bersuara
6.      /d/ konaonan apikoalveolar, hambat, bersuara
7.      /t/ konsonan apikoaveolar, hambat, tak bersuara
8.      /n/ konsonan apikoaveolar, nasal
9.      /t/ konsonan apikoaveolar, sampingan
10.  /r/ konsonan apikoaveolar, getar
11.  /z/ konsonan laminoalveolar, geseran, bersuara
12.  /s/ konsonan laminoalveolar, geseran, tak bersuara
13.  /∫/ konsonan laminopalatal, geseran, bersuara
14.  /ñ/ konsonan laminopalatal, nasal
15.  /j/ konsonan laminopalatal, paduan, bersuara
16.  /c/ konsonan laminopalatal, paduan, tak bersuara
17.  /y/ konsonan laminopalatal, semivokal
18.  /g/ konsonan dorsevelar, hambat, bersuara
19.  /k/ konsonan dorsevelar, hambat, tak bersuara
20.  /ŋ/ konsonan dorsevelar, nasal
21.  /x/ konsonan dorsevelar, geseran, bersuara
22.  /h/ konsonan laringal, geseran, bersuara
23.  /?/ konsonan glottal, hambat

2.6        Realisasi Fonem bahasa Indonesia
Realisasi fonem sebenarnya sama dengan bagaimana fonem itu dilafalkan. Hanya masalahnya kalau orang Indonesia melafalkan fonem-fonem bahasa Indonesia sangat banyak sekali variasinya. Hal ini berkenaan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai etnis dan berbagai bahasa daerah, sehinggga melafalkan fonem-fonem bahasa Indonesia pasti dipengaruhi oleh fistem fonologi bahasa darehanya.
a.       Realisasi Fonem Vokal
Secara umum realisasi fonem vokal bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      Fonem /i/
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [i] apabila berada pada silabel terbuka atau silabel tak berkoda seperti pada kata [kini], [lidi] dan [sapi]
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [I] apa biala berada pada silabel tertutup atau silabel berkoda seperti pada kata [batIk], [ambIl] dan [lirIk].

2.      Fonem /e/
Fonem /e/ mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan seperti bunyi [e] apa bila berada pada silabel terbuka, seperti pada kata [sate], [p∂te] dan [b∂rabe].
Kedua, direalisasikan seperti bunyi [ε] apa bila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata [m כ ñεt], [karεt] dan [εmbεr].

3.      Fonem /a/
Secara umum fonem /a/ direalisasikan sebagai bunyi [a], baik pada posisi awal kata, tengah kata, maupun akhir kata seperti pada kata , dan .
4.      Fonem /ә/
Secara umum direalisasikan sebagai bunyi [∂] seperti pada kata [k∂ra], [∂rat] dan[mar∂t].
5.      Fonem /u/
Fonem /u/ ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, dilafalkan sebagai bunyi [u] apa bila berada pada silabel terbuka
Kedua, drealisasikan sebagai bunyi [U] apa bila berada pada silabel tertutup.
6.      Fonem /o/
Fonem ini juga mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [o] apa bila berada pada silabel terbuka.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [נ] apa bila berada pada silabel tertutup.

b.      Lafal Fonem Konsonan
1.      Fonem /b/
Fonem ini memiliki dua realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi /b/ apa bila berada pada awal silabel, baik silabel terbuka maupun silabel tertutup yang buka ditutup oleh fonem konsonan /b/.
2.      Fonem /p/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [p] baik sebagai onset pada sebuah silabel maupun sebagai koda.
3.      Fonem /n/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [n], seperti pada kata[nanas],
4.      Fonem /w/
5.      Fonem /f/
6.      Fonem /d/
Fonem ini mempunya dua macam realisasi yaitu sebagai berikut:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [d] apabila berposisi sebagai onset pada sebuah silabel.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [t] dan [d] bila berposisi sebgai koda pada sebuah silabel.
7.      Fonem /t/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [t], namun perlu dicatat fonem /t/ pada posisi awal bila diberi prefiks me- atau prefiks pe- akan luluh dan bersenyawa dengan bunyi nasal yang homorgan dengan fonem /t/ itu.
8.      Fonem /n/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [n], baik sebagai onset maupun sebagai sebagai koda dalam sebuah silabel.
9.      Fonem /l/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [l] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
10.  Fonem /r/
11.  Fonem /z/
12.  Fonem /s/
13.  Fonem /∫/
14.  Fonem /ñ/
15.  Fonem /j/
16.  Fonem /c/
17.  Fonem /y/
18.  Fonem /g/
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi yaitu sebagai berikut:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [g] apa bila berposisi sbegai onset.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [g] atau [k] apabila berposisi sebagai koda
19.  Fonem /k/
Fonem ini memiliki tiga macam realisasi yaitu sebagai berikut:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [k] apa bila berposisi sebagai onset pada sebuah silabel.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [?] apabila berposisi sebagai koda pada sebuah silabel.
Ketiga, direalisasikan sebagai bunyi [g] bila berposisi sebagai koda.
20.  Fonem /ŋ/
fonem ini direalisasikan sebagai bunyi bunyi [ŋ] baik berposisi sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
21.  Fonem /x/
22.  Fonem /h/
23.  Fonem /?/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [?] yang muncul pada:
Pertama, silabel pertama dari sebuah kata yang berupa fonem vokal.
Kedua, diantara dua buah silabel, dimana nuklus silabel pertama dan nuklus silabel kedua berupa fonem vokal yang sama.

2.7       Alofon
Alofon adalah pembedaan realisasi pelafazan fonem karena posisi yang berbeda dalam kata. Misalkan fonem /b/ dalam bahasa Indonesia dilafalzkan pada posisi awal ("besar") dan tengah ("kabel") berbeda dengan fonem ini pada posisi akhir ("jawab").
 Kalau kita melihat kembali pembicaraan mengenai vokal maka kita melihat bahwa bunyi vokal depan tinggi ada dua, yaitu: vokal depan tinggi atas [i] dan vokal depan tinggi bawah [I]. begitu juga vokal belakang tinggi ada dua, yaitu: vokal belakang tinggi atas [u]dan vokal belakang tinggi bawah [U]. demikianjuga vokal belakang sedang ada dua, yaitu vokal belakang sedang atas [o] dan vokal belakang sedang bawah [כ].
Persoalan kita sekarangapakah bunyi vokal [i] dan vokal [I] dua buah fonem  atau sebuah fonem. Alau kita menggunakan cara dengan mencari pasangan minimal untuk kedua bunyi vokal itu dalam bahasa Indonesisa ternyata sampai saat ini tidak ada. Yang menjadi kenyataan adalah bahwa kedua vokal itu, [i] dan [I] memiliki distribusi yang berbeda. Vokal [i] menempati posisi pada silabels (suku kata) terbuka, silabel yang tidak memiliki koda, sedangkan vokal [I] menempati silabel yang mempunyai koda. Simak:
Vokal [i] pada kata   [ini];    [titi]; dan   [isi]
Vokal [I] pada kata   [b∂nIh];   [batik]; dan   [tasIk]

Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa:
a.       Vokal [i] dan [I] bukanlah merupakan dua fonem, melainkan cuma anggota dari sebuah fonem yang sama yaitu fonem /i/
b.      Vokal [i] dan vokal [I] distri businya tidak sama: vokal [i] berdistribusi pada silabel terbuka atau silabel tidak berkoda; sedangkan vokal [I] berdistribusi pada silabel tertutup atau silabel berkoda.
c.       Vokal [i] dan vokal [I] memiliki distribusi komplementer, berdistribusi yang saling melengkapi.
Analog dengan kasus vokal [i] dan vokal [I], maka dapat dikatakan vokal [u] dan vokal [U] juga merupakan anggota dari satu fonem yang sama, yaitu fonem /u/, yang juga berdistribusi secara komplementer. Vokal [u] untuk silabel terbuka (tak berkoda), dan vokal [U] untuk silabel tertutup (berkoda). Seperti yang tertera dibawah ini, yaitu sebagai berikut:
Vokal [u] pada kata   [buku]; [ibu]; dan [itu]
Vokal [U] pada kata [akUr]; [libUr]; dan [atUr]

            Hal yang sama terjadi juga pada kasus vokal [o] dan vokal [כ]. Dimana vokal [o] untuk silabel terbuka, seperti pada kata [took] dan [bodo], sedangkan vokal [כ] untuk silabel tertutup seperti [t כk כh] dan [b כd כh].
            Vokal-vokal yang menjadi anggota dari sebuah fonem, seperti [u] dan [U] untuk fonem /u/ disebut dengan istilah alofon. Dengan demikian kalau dibalik, bisa dikatakan alofon adalah anggota dari sebuah fonem atau varian dari sebuah fonem.
            Dari pembicaraan tentang fonem dan alofon diatas, dapat dikatakan bahwa fonem merupakan konsep abstrak karena kehadirannya dalam ujaran dia diwakili oleh alofon yang sifatnya konkrit, dapat diamati (didengar) secara empiris. Jadi, misalnya fonem /i/ pada kata diwakili oleh alofon [i], karena lafal kata itu adalah [tani], sedangkan pada katadiwakili oleh alofon [I], karena lafalnya adalah [tarIk]. Contoh fonem /k/ pada katadiwakili oleh alofon [k] karena lafalnya adalah [baku], sedangkan pada kata diwakili oleh alofon [?] karena lafalnya [bapa?]
            Dengan perkataan lain, fonem /i/ direalisasikan oleh alofon [i] dan alofon [I], fonem /u/ direalisasikan oleh alofon [u] dan alofon [U], sedangakan fonem /o/ direalisasikan oleh alofon [o] dan alofon [כ].

2.8       Fonem, Alofon, dan Ejaan

            Kini akan kita bicarakan bagaimana hubungan fonem dan alofon dengan ejaan yang berlaku sekarang yang disebut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
            Pada dasarnya ejaan tidak lain dari konvensi grafis, yakni “perjanjian” di antara para penutur suatu bahasa untuk menuliskan bahasanya. Artinya, bunyi-bunyi bahasa yang seharusnya diujarkan, diganti dengan lambang-lambang grafis, yang disebut huruf, dan dilengkapi dengan tanda baca.

            Bahasa Indonesia sama dengan kebanyakan bahasa-bahasa di dunia, menggunakan huruf latin atau abjad latin untuk menuliskan bahasanya. Tentunya dengan sistem dan aturan-aturan tersendiri, yang tidak sama dengan sistem aturan-aturan bahasa lain, meskipun sama-sama menggunakan abjad latin.




















BAB III
SIMPULAN
            Dari hasil pembahasan yang sudah dituliskan di dalam makalah ini, dapat diambil beberapa kesimpulan, diantaranya :
1.      Di dalam kajian grafemik, terdapat beberapa sub-sub materi, yaitu : Grafem Fonem Bahasa Indonesia, Fonem, Alofon, dan Ejaan
2.      Grafem adalah system pelambangan bunyi alih-alih disebut system ejaan,pada dasarnya grafem adalah huruf
3.      Fonem adalah kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna
4.      Grafem-grafem untuk  fonem-fonem  bahasa Indonesia yaitu grafem fonem vokal, grafem fonem diftong, dan grafem fonem konsonan
5.      Pembagian fonem di dalam bahasa Indonesia yaitu : fonem vokal, fonem diftong, dan fonem konsonan
6.      Alofon adalah pembedaan realisasi pelafazan fonem karena posisi yang berbeda dalam kata. Misalkan fonem /b/ dalam bahasa Indonesia dilafalzkan pada posisi awal ("besar") dan tengah ("kabel") berbeda dengan fonem ini pada posisi akhir ("jawab").
7.      Penerapan kaidah kajian grafemik yaitu sesuai dengan  ejaan yang berlaku sekarang yang disebut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
           


Daftar Pustaka
Chaer, Abdul.2013.Fonologi Bahasa Indonesia.Jakarta:Rineka Cipta




 

No comments:

Post a Comment

Naskah Drama "Balada Saridin"

Pemain : 1.       Saridin 2.       Aisyah 3.       Sari (teman Aisyah) 4.       Siti (teman Aisyah) 5.       Ayah Aisyah 6.  ...