Wednesday, November 16, 2016

MAKALAH “Klasifikasi dan Distribusi Bunyi”

ini contoh makalah dari kelompok atas nama :


ADE FAHMI ALAMSYAH
IBNU MUBAROK
IKHWATUN NAFISAH
TITI YUHANA
 untuk daftar isi maaf tidak dicantumkan, karena filenya hilang 

KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tentang Klasifikasi dan Distribusi Bunyi.
Kami selaku penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat serta menambah wawasan pengetahuan untuk kita semua . Berdasarkan pembuatan makalah ini, kami sangat menyadari masih banyak kekurangan ,oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat dimengerti oleh kita semua. Kami mohon maaf bila ada kesalahan kata dalam penulisan makalah ini,baik dari segi bahasa maupun isi.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



                                                                                                                      Kaplongan, Oktober 2016

 

                                                                                                                       Penyusun
  



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Berdasarkan kehidupan sosialnya, manusia saling berhubungan antara satu sama lain. Dalam hal ini perlu adanya sebuah komunikasi.Kebutuhan berkomunikasi itupun semakin kompleks seiring dengan perkembangan zaman dan kebudayaan manusia. Sehingga keadaan tersebut  menempatkan bahasa sebagai alat komunikasi manusia pada posisi yang paling penting.
  Agar komunikasi tersebut berjalan dengan baik, kedua belah pihak memerlukan bahasa yang dapat dipahami bersama. Wujud bahasa yang utama adalah bunyi. Bunyi-bunyi tersebut disebut bunyi bahasa. Dalam pengucapannya, bunyi-bunyi bahasa dapat disegmentasikan atau dipisah-pisahkan (bunyi segmental), dalam bunyi yang dapat disegmentasikan itu terdapat unsur-unsur yang menyertainya sehingga disebut bunyi segmental. Oleh karna itu, dianggap penting untuk mengkaji mengenai bunyi-bunyi segmental tersebut. Guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang dibahas adalah:
1. Apa sajakah Klasifikasi Bunyi?
          2. Bagaimanakah Bunyi itu dihasilkan?
 
1.3  Tujuan
Adapun yang ingin dicapai dalam pembelajaran ini,yaitu:
1.Dapat mengetahui  Klasifikasi Bunyi
2.Dapat mengetahui Distribusi Bunyi

1.4 Manfaat
1. Dapat  memahami Klasifikasi Bunyi yang digunakan dalam bahasa  sehari-   hari
2.Dapat memahami tentang Distribusi Bunyi   
BAB II
PEMBAHASAN
Klasifikasi dan Distribusi Bunyi Bahasa
2.1 PENGERTIAN BUNYI SEGMENTAL MENURUT PARA AHLI
1. Muslich, Masnur. 2008. Bunyi segmental ialah bunyi yang dihasilkan oleh pernafasan,alat ucap dan pita suara.
2. Abdul chaer. 2009. Bunyi segmental ialah bunyi ujar bahasa yang terdiri dari segmen-segmen tertentu.
3. Imam-suhairi . 2009.  Bunyi segmental mengacu pada pengertian bunyi-bunyi yang dapat disegmentasi/dipisah-pisahkan. Kata matang misalnya, dapat disegmentasi menjadi /m/,/a/,/t/,/a/,/n/,/g/. Jelas bunyi-bunyi tersebut menunjukkan adanya fonem. Dengan demikian, sebenarnya bunyi-bunyi bahasa yang telah diuraikan sebelumnya adalah bunyi segmental.
(fonologi.Blogspot.co.id/2012/06/klasifikasi bunyi segmental)
2.2  DASAR KLASIFIKASI BUNYI SEGMENTAL
Masnur. 2008. Klasifikasi bunyi segmental didasarkan berbagai macam keriteria, yaitu Ada tidaknya gangguan , Mekanisme udara, Arah udara, Pita suara, Lubang lewatan udara, Mekanisme artikulasi, Cara gangguan, Maju mundurnya lidah, Tinggi rendahnya lidah, Bentuk bibir.


1. Ada Tidaknya Gangguan
Yang dimaksud “ gangguan ” adalah penyempitan atau penutupan yang dilakukan oleh alat-alat ucap atas arus udara dalam pembentukan bunyi. Dilihat dari ada tidaknya gangguan ketika bunyi diucapakan, bunyi di klompokkan menjadi dua, yaitu:
a. Bunyi vokoid yaitu bunyi yang dihasilkan tanpa melibatkan penyempitan atau penutupan pada daerah artikulasi.
Contoh bunyi vokoid menurut Daniel Jones terdapat pada bunyi vokal:
• Vokal (i) * vokal (a)
• Vokal (u) * vokal (o)
• Vokal (e) * vokal (α)
b. Bunyi kontoid yaitu bunyi yang dihasilkan dengan melibatkan penyempitan    atau penutupan pada daerah artikulasi.
Contoh terdapat pada bunyi vokal (m), (n), dll
2. Mekanisme Udara
Yang dimaksud mekanisme udara adalah dari mana datangnya udara yang menggrakkan pita suara sebagai sumber bunyi. Dilihat dari kriterianya bunyi-bunyi bahasa bisa dihasilkan dari tiga kemungkinan  mekanisme udara.
a. Mekanisme udara pulmonis, yaitu udara yang dari paru-paru menuju keluar. Contohnya: terdapat pada hampir semua bunyi bahasa di dunia.
b. Mekanisme udara laringal atau faringal, yaitu udara yang datang dari laring atau faring.
c. Mekanisme udara oral, yaitu udara yang datang dari mulut.
3. Arah Udara
Dilihat dari arah udara ketika bunyi dihasilkan, bunyi di klompokan menjadi dua, yaitu:
a. Bunyi egresif, yaitu bunyi yang dihasilkan dari arah udara menuju keluar melalui rongga mulut atau rongga hidung.
b. Bunyi ingresif, yaitu bunyi yang dihasilkan dari arah udara masuk kedalam paru-paru.
4. Pita Suara
Dilihat dari bergetar tidaknya pita suara ketika bunyi dihasilkan bunyi dapat di klompokkan menjadi dua, yaitu:
a. Bunyi mati atau bunyi tak bersuara, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan pita suara tidak melakukan gerakan membuka menutup sehingga getarannya tidak signifikan.
Contoh : bunyi (k), (p), (t), (s).
b. Bunyi hidup atau bunyi bersuara, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup secara cepat sehingga bergetar secara signifikan.
Contoh : bunyi (g), (b), (d), (z).
5. Lubang Lewatan Udara
Dilihat dari lewatan udara ketika bunyi dihasilkan, bunyi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
a. Bunyi oral, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan  cara udara keluar melalui rongga mulut, dengan menutupkan velik pada dinding faring.
Contoh: bunyi (k)
b. Bunyi nasal, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara  udara keluar melalui rongga hidung , dengan menutup rongga mulut dan membuka velik lebar-lebar.
Contoh: bunyi (m)
c. Bunyi sengau, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara udara keluar dari rongga mulut dan rongga hidung, dengan membuka velik sedikit.
Misalnya terdapat  pada bunyi “bindheng”(istilah --jawa)
6. Mekanisme Artikulasi
Yang dimaksud mekanisme artikulasi adalah alat ucap mana yang bekerja atau bergerak ketika menghasilkan bunyi bahasa. Berdasarkan keriteria ini, bunyi dikelompokan sebagai berikut:
a. Bunyi bilabial, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dan bibir (labium ) atas.
Misalnya: bunyi (p), (b), (m), dan (w)
b. Bunyi labio-dental, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dengan gigi (dentum)atas.
Misalnya : bunyi (f), dan (v)
c. Bunyi apiko -dental,yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan lidah (apeks) dan gigi(dentum) atas.
Misalnya : bunyi (t) pada ( pintu) , (d) pada (dadi), dan (n) pada (minta)
d. Bunyi apiko-alveolar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan ujung lidah (apeks) dan gusi (alveolum) atas.
Misalnya : (t) pada (pantun), (d) pada (dudU?), dan (n) pada (nama)
e. Bunyi lamino-palatal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tengah lidah (lamina) dan langit-langit keras (palatum).
Misalnya : (c), (j), (ñ), (Š)
f. Bunyi dorso-velar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah (dorsum) dan langit-langit lunak (velum).
Misalnya : (K), (g), (x), (η)
g. Bunyi dorso-uvular, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah (dorsum) dan anak tekak (uvula).
Misalnya: (q), dan (R).
h. Bunyi laringal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tenggorok (laring).
Misalnya: (h).
i. Bunyi glotal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan lubang atau clah (glotis) pada pita suara.
Misalnya: (?) hamzah
7. Cara Gangguaan
Dilihat dari cara gangguan arus udara oleh artikulator ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat diklompokkan sebagai berikut.
a. Bunyi stop (hambat)  yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara ditutup rapat sehingga udara terhenti seketika, lalu dilepaskan kembali secara tiba-tiba. Tahap pertama (penutupan) disebut implosif(stop implosif), tahap kedua (pelepasan) disebut eksplosif (stop eksplosif).
Misalnya: (p) pada (atap’) disebut bunyi implosive, (p) pada (paku) disebut bunyi eksplosif. 
Contoh bunyi stop lainnya: (b), (t), (d), (k), (g), (?).
b. Bunyi kontinum(alir)  kebalikan dari bunyi stop, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara tidak ditutup secara total sehingga arus udara tetap mengalir berarti selain bunyi-bunyi stop merupakan bunyi kontinum.
c. Bunyi afrikatif (panduan)  yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara ditutup rapat, tetapi kemudian dilepaskan secara berangsur. Misalnya, (c), dan (j)
d. Bunyi frikatif (geser)  yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara dihambat sedemikian rupa sehingga udara tetap  dapat keluar. Misalnya, (f), (v), (s), (z), (Š), (x).
e. Bunyi tril (getar)  yaitu bunyi yang dihasilkan denagn cara arus udara ditutup dan dibuka berulang-ulang secara cepat. Misalnya, (r), dan (R)
f. Bunyi lateral (sampingan)  yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara ditutup sedemikian rupa sehingga udara masih bias keluar melalui salah satu atau kedua sisinya. Misalnya, (l) pada (lima).
g. Bunyi nasal (hidung) yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara yang lewat rongga mulut ditutup rapat, tetapi arus udara dialirkan lewat rongga hidung. Mialnya, (m), (n), (ñ), (η).
8. Tinggi-Rendahnya Lidah
Dilihat dari tinggi rendahnya lidah ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
a. Bunyi tinggi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah meniggi, mendekati langit-langit keras. Misalnya, (i) pada (kita), (u) pada (hantu).
b. Bunyi agak tingggi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah meninggi, sehingga agak mendekati langit-langit keras. Misalnya, (e) pada lele, (o) pada (soto).
c. Bunyi tengah, yaitu bunyi yang dihasilakan dengn cara posisi lidah di tengah. d. Bunyi agak rendah, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah agak merendah, sehingga agak menjauhi langit-langit keras. Misalnya, (ε)pada kata (p ε p ε?), (ε) pada kata (ε l ε?), (О) pada (jOrO?), (O) pada (pOkO?).
d. Bunyi rendah, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah merendah, sehingga jauh dari langit-langit keras. Misalnya, (a)pada (bata), (a) pada (armada), (α) pada (allαh), (α) pada (rαhmat).
9. Maju Mundurnya Lidah
Dilihat dari maju mundurnya lidah ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
a. Bunyi depan, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara bagian depan lidah dinaikkan. Misalnya, (i), (ī),(e), (ε), (a).
b. Bunyi pusat, yaitu bunyi yang dihasillkan dengan cara lidah merata., tidak ada bagian lidah yang diinakkan. Misalnya, ( )
c. Bunyi belakang, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara bagian belakang lidah dinaikkan. Misalnya, (u), (U), (o), (O), (α).
10. Bentuk Bibir
Dilihat dari bentuk bibir ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokkan menjadi dua yiatu:
a. Bunyi bulat  yaitu buunyi yang dihasilkan dengan cara posisi bibir berbentuk bulat. Misalnya, (u), (U), (o), (O), (α).
b. Bunyi tidak bulat  yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi bibir merata atau tidak bulat. Misalnya, (i), (ī),(e), (ε), (a).

2.2 BUNYI SUPRASEGMENTAL
Bunyi Suprasegmental dikelompokkan menjadi 4 jenis , yaitu :
1.      Tinggi-Rendah Bunyi( nada)
2.      Keras –Lemah Bunyi ( tekanan)
3.      Panjang-Pendek Bunyi( durasi)
4.      Kesenyapan( jeda)
Di samping bunyi segmental, terdapat pula bunyi lain yang mendukung bunyi segmental, yakni “bunyi suprasegmental”. Bunyi suprasegmental dapat diklasifikasi berdasarkan ciri-cirinya sewaktu diucapkan yang disebut “ciri prosodi”. Ciri-ciri Bunyi Suprasegmental
a.    Jangka
Jangka, panjang, atau intensitas menyangkut lamanya bunyi diucapkan. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan waktu yang cukup lama, tentu disertai bunyi suprasegmental dengan ciri prosodi panjang.
b.    Tekanan
Dalam suatu kata atau kelompok kata selalu ada satu suku kata yang menonjol. Penonjolan suku kata tersebut dapat dilakukan dengan cara memperpanjangpengucapannya, meninggikan nada, atau dengan memperbesar tenaga pengucapan atau intensitas. Gejala seperti ini disebut tekanan.
c.     Jeda
Jeda, kesenyapan atau sendi merupakan ciri berhentinya tuturan atau pengucapan. Untaian bunyi seperti suku kata , kata, frase, klausa, dan kalimat memiliki ciri jeda tertentu.
d.   Intonasi
Intonasi merupakan perubahan titinada dalam berbicara. Karena itu, intonasi sering dinyatakan dengan angka (1, 2, 3, 4) yang melambangkan titinada atau bulatan yang ditempatkan dalam suatu dkala seperti pada pokok not musik.

2.3 BUNYI PENGIRING
Bunyi sertaan atau pengiring dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.      Labialisasi ,yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara bibir dibulatkan dan disempitkan segera atau ketika bunyi utama diucapkan ,sehingga terdengar bunyi sertaan [w] pada bunyi utama. Contoh: bunyi [t] pada kata <tujuan>
2.      Palatalisasi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara lidah tengah dinaikkan mendekati langit-langit keras atau bunyi utama diucapkan, sehingga terdengar bunyi sertaan[y]. Contoh: bunyi [p] pada kata <piara> terdengar sebagai bunyi [Py] sehingga ucapannya menjadi [Pyara].
3.      Velarisasi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara mengangkat lidah kearah langit-langit lunak{velum}segera, sehingga terdengar bunyi sertaan [x]. Contohnya: bunyi [m] pada kata <makhluk> terdengar sebagai bunyi [Mx],sehingga ucapannya menjadi <Mxaxluk>
4.      Retrofleksi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara ujung lidah ditarik kebelakang segera . contohnya: misalnya bunyi [k] pada kata <kertas> terdengar sebagai bunyi [Kr],sehingga ucapannya menjadi [Kkertas]
5.      Glotalisasi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara glotis ditutup sesudah bunyi utama  diucapkan, sehingga terdengar bunyi sertaan [?]. contohnya: bunyi [a] pada kata <akan> , sehingga ucapannya menjadi[a?kan]
6.      Aspirasi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara yang keluar lewat rongga mulut terlalu keras,sehingga terdengar bunyi sertaan [h]. Contohnya: kata<peace> terdengar sebagai bunyi [Ph], sehingga menjadi[pheis]
7.      Nasalisasi, yaitu  bunyi yang dihasilkan dengan memberikan arus udara melalui rongga hidung sebelum atau sesaat bunyi utama diucapkan , sehingga terdengar bunyi sertaan[m] . hal ini biasa terjadi pada konsonan hambat bersuara, yaitu [b],[d],dan [g]. Sehingga menjadi kG
8.      Ejektif, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara glotis ditutup dan sewaktu bunyi utama diucapkan, sehingga ketika glotis dibuka terdengar bunyi glotal[?v]
9.      Klik, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara lidah belakang menempel rapat pada velum sebelum dan sewaktu bunyi utama diucapkan, sehingga terdengar bunyi [Kk]
                                                                                

BAB III
SIMPULAN
Klasifikasi dan Distribusi Bunyi
3.1 Segmental yaitu bunyi yang dapat disegmentasikan. Meliputi: Ada tidaknya gangguan, Mekanisme udara, Arah udara, Lubang lewatan udara, Mekanisme artikulasi, Cara gangguaan, Tinggi rendahnya lidah, Maju mundurnya lidah, Bentuk bibir.
3.2 Suprasegmental yaitu bunyi yang tidak dapat disegmentasikan. Meliputi: Tinggi-Rendah Bunyi (nada), Keras-Lemah Bunyi (tekanan), Panjang-Pendek Bunyi (durasi), Kesenyapan (jeda).
Sejauh ini unsur suprasegmental tidak “berlaku” dalam fonetik bahasa Indonesia, tetapi ada “berlaku” dalam bahasa lain, umpamanya dalam bahasa Ngbaka di Kongo Utara.  
3.3  Bunyi Pengiring yaitu Bunyi yang  ikut serta muncul ketika bunyi utama dihasilkan. Meliputi: Labialisasi, Palatalisasi, Velarisasi, Retrofleksi, Glotalisasi, Aspirasi, Nasalisasi, Ejektif, Klik.




No comments:

Post a Comment

Naskah Drama "Balada Saridin"

Pemain : 1.       Saridin 2.       Aisyah 3.       Sari (teman Aisyah) 4.       Siti (teman Aisyah) 5.       Ayah Aisyah 6.  ...